Sastra klasik, Katak Hendak jadi Lembu

Mata terlayang ke kiri dan ke kanan,

Menoleh ke muka dan ke belakang,

Akan melihat dan menyaksikan,

Siapa konon nan berseru berulang-ulang?

Kilat bersabung terang sebentar,

Terbayang kemewahan indah sekali,

Nampak selintas kekayaan alami,

Berdesir, bergerak dan bergetar-getar,

Oleh sang aingin bernyanyi riang,

Merayu kelana nan suram-malang

Cumbuan Sri lemah-gemulai

Deru-desau si air madu al-Kausar,

Disela rindu di pungguk jabar,

Nikmatnya tiada dapat dinilai.

Akan tetapi bagi Suria edan,

Sekaliannya itu cibir-ejekan,

Mengapa dia, manusia nan kuat berakal,

Melarat, sengsara, berkain tambal-termambal?

Suria merenung menatap diri,

Dari dada sampai ke kaki,

Mengapa dia daif memalukan,

Kulit kesat bak jarang pari,

Padahal dahulu halus menawan putri?

Sekarang begini, aduhai tuan,

Sesal berungut tiada terperikan.

Ruh ayahnya pun merupa suram durja,

Mengumpat, mencela teranja-anja

Kini aduhai, buruk tiada bertara,

Akibat congak tak kenal mara.

Puisi diatas adalah dari buku Katak Hendak Jadi Abu. Sudah beberapa hari ini saya asik membaca buku sastra klasik apalagi usia dari novel tersebut sudah 76 tahun tepatnya pertama kali dicetak tahun 1935, dimana buku tersebut menceritakan tentang keadaan masyarakat di tahun 30-an dimana terjadi kekacauan ekonomi di Eropa terasa hebat di tanah air kita ini.

Musim Malaise atau musim meleset, kata penulis, karena memang pada ketika itu apa-apa yang dikerjakan boleh dikatakan meleset sekaliannya.

Yang amat banyak menanggungkan sengsara akibat meleset itu ialah kaum buruh, termasuk juga seluruh pegawai negeri.  Banyak orang yang diberhentikan dari jawatannya (Departemen), jumlah pegawai dikurangi benar-benar, dan karena itu seakan-akan tertutuplah pintu bagi para pemuda dan pemuti tamatan sekolah – sejak dari sekolah rendah sampai kepala sekolah tinggi – akan mencari rezeki dengan tangkai pena di kantor-kantor.

Sedikit saya tuliskan bagian dari cerita Katak Hendak Jadi Abu.

Zubaidah memangdang kepada suaminya, seraya

Meneguk air seleranya. Dadanya yang tiada

Penuh benar lagi ditekannya dengan tangan

Kirinya, akan menahan gelora hatinya. Suria duduk

Menggapai pada sandaran kursi, kakinya menolak nolakkan

Ke meja, sedang ia mengembus-embuskan asap rokok ke loteng.

Apa jadinya jika seekor katak hendak menjadi lembu?

Begitulah. Sesorang pegawai rendahan bernama Suria, yang jadi mantri kabupaten di kantor patih sumedang, merasa dirinya begitu berkuasa.

Celakanya, Suria pun berniat menikahi Zubaidah. Memanfaatkan kedekatan ayahnya dengan ayah Zubaidah, Suria berhasil membatalkan pernikahan gadis cantik itu dengan Raden Prawira.

Lalu bagaimana dengan nasib Zubaidah??

O… betapa rumitnya jalan hidup.

Buku ini layak dibaca terlebih untuk pemerhati Sastra Klasik.

Selamat membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s