120 Menit Menentukan Nasib Siswa

Hari ini adalah hari pertama siswa tingkat III TKM (Tes Kendali Mutu).

Hawa Ujian nasional sangat terasa sekali, siswa-siswi sangat tekun mengerjakan soal, dengan wajah yang penuh konsentrasi mencorat-coret kertas buram, hitung menghitung angka, diperas bagaimana otak berjalan sesuai dengan jalurnya.

Terkadang wajahnya berubah manis takala hasil yang dicari sesuai dengan jawaban yang ada pada soal, atau mungkin sebaliknya berubah kecut apabila menemukan soal yang menurut mereka sulit dikerjakan.

Saya yakin fenomena ini tidak hanya terjadi disekolah tempat saya mengajar saja, disekolah lain mesti sama. karena TKM diadakan serentak Se Jakarta Utara atau mungkin se DKI Jakarta.

Mereka sudah maksimal belajar, guru-guru pun sama tak beda susahnya, bagaimana tidak guru-guru sudah menyusun berbagai rencana pembelajaran agar siswanya lulus 100%.

Mulai dari KBM harian, latihan soal yang bertubi-tubi, dari Bahasa Indonesia, matematika, Bahasa Inggris, hingga pelajaran Produktif sudah dicernanya. Sampai pelajaran tambahan yang diadakan hari Sabtu pagi hingga petang.

Miris memang, saya pribadi sebagai seorang guru tentu tidak sependapat mengenai Ujian Nasional, 3 hari sangat bermakan bagi kehidupan siswa,  3 hari pula yang menentukan nasib mereka Lulus atau tidak Lulus. Ada sisi positifnya dimana siswa menjadi rajin belajar dan termotivasi untuk sekolah dilain pihak nilai kelulusan yang dianggap siswa terlalu tinggi untuk di jangkau.

Akhir kata 3 hari yang sangat-sangat menentukan nasib mereka.

Tiada kata yang indah dan doa yang makbul, untuk melihat siswa lulus dan berguna bagi masyarakat.

semoga …..

7 pemikiran pada “120 Menit Menentukan Nasib Siswa

  1. Memang miris rasanya ya, Gan. Karena hanya tiga hari itulah yang dihitung. Sementara ulangan harian, absensi dan perilaku keseharian tidak dianggap sama sekali. Akhirnya banyak siswa yang meremehkan tugas-tugas sekolah dan bertingkah kurang ajar karna mereka tau hanya ujian dari pusat-lah yang menentukan lulus tidak-nya mereka.

  2. perjuangan bertahun” cuma ditentukan oleh nilai yang didapat dari 120 menit.

    sampe kapan pendidikan kita kek gini trus,,,@@

  3. ya begitulah wajah pendidikan negeri. ya, kita padukan saja keinginan kita sebagai pendidik dengan keinginan pengambil kebijakan. semangat jujur segalanya akan berakhir denga baik, insyallah.

  4. dan menurut saya itu sangat bagus bila materi semakin sulit mengingat zaman dan kualitas pendidikan di negeri ini semakin merosot. Dan siswa sekarang sepertinya lebih cendrung dengan tekno,…. saya malah mengharap banyak yang ngga lulus, ini demi kualitas mereka sendiri. Ini semata2 agar mereka tau bahwa mereka hidup di ‘zaman kualitas tinggi’

    Apa pendapat saya salah?

    • Pendapat mas kaget tidak salah, semua berhak berekpresi asalkan sesuai jalurnya.
      bila banyak yang tidak lulus, apa semakin banyak permasalahan yang terjadi di pendidikan.
      bukan lulus atau tidak lulusnya menurut saya. tapi Skil kehidupan mereka nanti dimasyarkat dan mencari penghidupan yang layak untuk mereka.

      terimakasih mas atas kunjungannya, komennya sangat bermanfaat.

  5. kenapa ya tolak ukur seorang siswa dikatakan lulus ditentukan melalui metode teori, bukan dengan kemampuan atau sebuah skill yang telah ia miliki.
    saya beranggapan bahwa jika UN yg dijadikan tolak ukur, kasihan mereka anak yang pandai, karena seorang anak yang pandai tetap akan kalah dengan mereka yang “beruntung”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s