PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI LITERASI PRODUKTIF BERBASIS INFORMASI DAN TEKNOLOGI PADA GURU SMP NEGERI

PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI
LITERASI PRODUKTIF BERBASIS INFORMASI DAN TEKNOLOGI
PADA GURU SMP NEGERI
Mohammad Hairul

ABSTRAK
Seiring peralihan budaya literasi dari cetak ke digital, from print to screen, dunia
pendidikan melalui proses pembelajaran di sekolah seharusnya mengarah pada
pembelajaran abad ke-21. Suatu proses yang mengakrabkan pembelajar dengan
teknologi. Literasi produktif berbasis IT dibutuhkan guru untuk pengembangan
kompetensi pedagogik. Perpaduan keterampilan literasi dan penggunaan IT akan
membantu guru menghasilkan inovasi pembelajaran berupa aplikasi
pembelajaran. Makalah ini mendeskripsikan apa, mengapa, dan bagaimana literasi
produktif berbasis IT. Literasi produktif dimaknai sebagai aktivitas memproduksi
huruf melalui aktivitas menulis untuk memberikan keterpahaman. Hal itu
dimaksudkan untuk merevolusi mental guru dari penerima pengetahuan menjadi
pemproduksi pengetahuan di era digital. Wujud pelatihan untuk menggiatkan
literasi produktif berbasis IT bagi guru antara lain, Sagusatab (satu guru satu
tablet), Sagusamik (satu guru satu komik), Sagusablog (satu guru satu blog),
Sagusanov (satu guru satu inovasi), Sagusaku (satu guru satu buku), dan
Sagusakti (satu guru satu KTI).

Kata Kunci: Kompetensi Guru, Literasi Produktif, Berbasis IT.
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Guru Indonesia kini notabene adalah sarjana. Kualifikasi tersebut
merupakan kualifikasi minimal seorang guru di jenjang sekolah dasar sekalipun. Baca lebih lanjut

DILEMA GURU BERPENDIDIKAN S1 YANG TIDAK MEMILIKI SURAT IZIN BELAJAR

DILEMA GURU BERPENDIDIKAN S1

YANG TIDAK MEMILIKI SURAT IZIN BELAJAR
Haryadi Rusnawan

ABSTRAK
Penulisan karya tulis ini bertujuan mengangkat sebuah permasalahan yang
masih dialami oleh sebagian kecil guru, yaitu guru yang sudah berpendidikan S1
namun tidak memiliki Surat Izin Belajar. Sebelum adanya program sertifikasi
guru, pada umumnya guru Sekolah Dasar masih berpendidikan D2. Setelah
program sertifikasi guru digulirkan, para guru berbondong-bondong menempuh
pendidikan S1. Program tersebut yang mewajibkan guru berpendidikan S1
membuat para guru berusia lanjut memaksakan diri untuk kembali memasuki
bangku kuliah. Ketika banyak guru yang terpaksa kuliah S1 demi mendapatkan
gelar sarjana, ternyata ada sebagian kecil guru yang sudah berpendidikan S1
namun ijazahnya tidak diakui. Mereka adalah para guru PNS/CPNS yang
berpendidikan D2 yang melanjutkan kuliah kemudian memperoleh gelar sarjana
tanpa tahu menahu tentang aturan ijin belajar. Bisa juga karena Surat Ijin Belajar
belum turun hingga kuliah selesai. Resiko yang dialami oleh guru tersebut, ijazah
S1 yang mereka raih dengan susah payah tidak bisa diakui pada kenaikan tingkat
berikutnya.
Kata Kunci: dilema guru, ijin belajar, wajib S1

PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, harus diawali
dengan meningkatkan kualitas pendidiknya. Seorang guru harus lulusan dari
sekolah yang memang dipersiapkan untuk menjadi pendidik yaitu SPG untuk guru
kelas, SGO untuk guru olahraga dan PGA untuk guru agama. Sama halnya dengan
dunia industri yang lebih mengutamakan karyawan dari lulusan SMK.
Seiring berjalannya waktu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka
kualitas guru juga harus lebih ditingkatkan lagi. Dalam rangka pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM), guru sekolah dasar sebagai mana tertuang dalam
SK Mendikbud Nomor 0854/U/1989, tertanggal 30-12-1989 dan SK Dirjen Dikti
No. 178-Dikti/kep/1990 tertanggal 16-04-1990 tentang kualifikasi formal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar harus ditingkatkan dari sederajat SLTA menjadi
Diploma (D-II) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun daerah-daerah
tertentu yang masih kekurangan guru, atau di daerah terpencil masih bisa
menerima guru lulusan sekolah pendidikan guru (SPG) dan sekolah guru olahraga
(SGO).
Baca lebih lanjut

Prosiding Seminar Nasional Tahun 2017

Berikut ini adalah beberapa Prosiding yang pernah di tampilkan dalam Seminar Nasional Tahun 2017 yang bertempat di Swiss Bel Hotel jakarta.

Prosiding berikut sengaja saya sebarkan, untuk bahan bacaan atau bahan rujukan. dan perlu anda ingat tulisan prosiding berikut sudah ber ISBN. jadi bila anda mencopy atau menduplikasi tulisan berikut dan di ikut sertakan dalam barbagai macam seminar maka anda tidak adan lulus Plagiasi.

terimkasih semoga berguna.

MODEL– MODEL PEMBELAJARAN

Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang lebih bersifat student centered. Artinya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Pembelajaran inovatif mendasarkan diri pada paradigma konstruktivistik.

Pembelajaran inovatif biasanya berlandaskan paradigma konstruktivistik membantu siswa untuk menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru.

Transformasi terjadi melalui kreasi pemahaman baru (Gardner, 1991) yang merupakan hasil dari munculnya struktur kognitif baru. Pemahaman yang mendalam terjadi ketika hadirnya informasi baru yang mendorong munculnya atau menaikkan struktur kognitif yang memungkinkan para siswa memikirkan kembali ide-ide mereka sebelumnya. Dalam seting kelas konstruktivistik, para siswa bertanggung jawab terhadap belajarannya, menjadi pemikir yang otonom, mengembangkan konsep terintegrasi, mengembangkan pertanyaan yang menantang, dan menemukan jawabannya secara mandiri (Brook & Brook, 1993; Duit, 1996; Savery & Duffy, 1996). Tujuh nilai utama konstruktivisme, yaitu: kolaborasi, otonomi individu, generativitas, reflektivitas, keaktifan, relevansi diri, dan pluralisme. Nilai-nilai tersebut menyediakan peluang kepada siswa dalam pencapaian pemahaman secara mendalam.

Setting pengajaran konstruktivistik yang mendorong konstruksi pengetahuan secara aktif memiliki beberapa ciri:

  1. menyediakan peluang kepada siswa belajar dari tujuan yang ditetapkan dan mengembangkan ide-ide secara lebih luas.
  2. mendukung kemandirian siswa belajar dan berdiskusi, membuat hubungan, merumuskan kembali ide-ide, dan menarik kesimpulan sendiri.
  3. sharing dengan siswa mengenai pentingnya pesan bahwa dunia adalah tempat yang kompleks di mana terdapat pandangan yang multi dan kebenaran sering merupakan hasil interpretasi.
  4. menempatkan pembelajaran berpusat pada siswa dan penilaian yang mampu mencerminkan berpikir divergen siswa.

Baca lebih lanjut