PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI LITERASI PRODUKTIF BERBASIS INFORMASI DAN TEKNOLOGI PADA GURU SMP NEGERI

PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI
LITERASI PRODUKTIF BERBASIS INFORMASI DAN TEKNOLOGI
PADA GURU SMP NEGERI
Mohammad Hairul

ABSTRAK
Seiring peralihan budaya literasi dari cetak ke digital, from print to screen, dunia
pendidikan melalui proses pembelajaran di sekolah seharusnya mengarah pada
pembelajaran abad ke-21. Suatu proses yang mengakrabkan pembelajar dengan
teknologi. Literasi produktif berbasis IT dibutuhkan guru untuk pengembangan
kompetensi pedagogik. Perpaduan keterampilan literasi dan penggunaan IT akan
membantu guru menghasilkan inovasi pembelajaran berupa aplikasi
pembelajaran. Makalah ini mendeskripsikan apa, mengapa, dan bagaimana literasi
produktif berbasis IT. Literasi produktif dimaknai sebagai aktivitas memproduksi
huruf melalui aktivitas menulis untuk memberikan keterpahaman. Hal itu
dimaksudkan untuk merevolusi mental guru dari penerima pengetahuan menjadi
pemproduksi pengetahuan di era digital. Wujud pelatihan untuk menggiatkan
literasi produktif berbasis IT bagi guru antara lain, Sagusatab (satu guru satu
tablet), Sagusamik (satu guru satu komik), Sagusablog (satu guru satu blog),
Sagusanov (satu guru satu inovasi), Sagusaku (satu guru satu buku), dan
Sagusakti (satu guru satu KTI).

Kata Kunci: Kompetensi Guru, Literasi Produktif, Berbasis IT.
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Guru Indonesia kini notabene adalah sarjana. Kualifikasi tersebut
merupakan kualifikasi minimal seorang guru di jenjang sekolah dasar sekalipun.
Hal demikian menunjukkan bahwa guru di level sekolah dasar dan menengah
(pertama, atas, dan kejuruan) setidak-tidaknya sudah sekali pernah memiliki
mahakarya ilmah saat menuntaskan pendidikan tinggi strata satu (S1), berupa
skripsi. Kondisi tersebut sudah pesat berkembang seiring maraknya program
peningkatan kualifikasi guru ke jenjang pascasarjana (S2) baik secara mandiri
(ijin belajar) maupun program beasiswa dinas dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (tugas belajar). Hal itu menyebabkan asumsi-sah bahwa setidaknya
guru sudah pernah ‗sekali‘ menghasilkan mahakarya tulis ilmiah berupa skripsi,
bahkan ada yang plus tesis bagi yang sudah mengenyam program magister.
Berdasarkan gambaran tersebut, selayaknya seorang sarjana maka guru
adalah pemproduksi pengetahuan. Ia dengan profesi yang diembannya sudah selayaknya mampu memproduksi pengetahuan untuk kemudian diajar-didikkan
kepada siswa. Pernah menghasilkan karya tulis imiah berupa skripsi di saat
menuntaskan jenjang S1 merupakan modal bagi guru untuk terus berkarya. Guru
mulai karena karya. Demikian tagline yang disosialisasikan Kemdikbud beberapa
tahun terakhir. Hal itu merupakan penegasan bahwa terus berkarya merupakan
wujud kecintaan seorang guru terhadap profesinya.

Namun demikian, menumbuhkan jiwa produktif berkarya dalam diri guru
adalah suatu pekerjaan yang tidak sederhana. Guru-guru kita pada umumnya
memang merupakan lulusan perguruan tinggi, yang notabene semua perguruan
tinggi di Indonesia mewajibkan mahasiswanya untuk membuat penelitian atau
membuat laporan akhir, dalam rangka memperoleh gelar sarjana. Secara tidak
langsung ilmu dasar tentang teknik-teknik meneliti sudah dimiliki oleh para guru
kita.

Permasalahan yang terjadi adalah apakah guru mempunyai sense of
awareness terhadap permasalahan di sekitarnya? Apakah guru terpikir untuk
meningkatkan kinerjanya? Apakah guru sadar untuk melakukan self evaluation
terhadap metode mengajarnya? Kesadaran seperti inilah yang menjadi titik tolak
proses pembentukan guru yang produktif berkarya. Guru yang menempatkan diri
sebagai pemproduksi pengetahuan, sebagai insan yang terus berjiwa pembelajar
dan terus berkarya. Guru yang terus melakukan pengembangan kompetensi
pedagogik melalui literasi produktif berbasis IT.
Pada satu kesempatan, seorang guru menyatakan, “Jika saya hanya
membacakan naskah kepada murid-murid, saya tidak benar-benar mengajar.
Saya sarjana pendidikan. Saya tidak dipercaya untuk mempersiapkan pelajaran.
Saya akan meninggalkan profesi ini, kecuali ada perubahan. Saya merasa terhina
setiap kali pergi ke sekolah.” (Kinchelo, 2014: 33).

Demikianlah gambaran dunia pendidikan yang kurang memberi
keleluasaan kepada guru. Pengetahuan masih menjadi sesuatu yang diproduksi
oleh ahli yang jauh dari sekolah. Ahli yang dimaksudkan adalah mereka (para
ilmuwan-peneliti) yang berada jauh dari konteks persekolahan seperti yang
dihadapi guru setiap hari. Namun dalam reformasi pendidikan yang demokratis,
hal demikian harus diubah. Guru harus memasuki budaya peneliti jika hendak
mencapai level kompetensi yang lebih tinggi.

Guru adalah pembelajar, bukan pelaksana yang sekadar mengikuti perintah
atasan tanpa pertanyaan. Guru mestinya dipandang sebagai pekerja pengetahuan
bukan pesuruh. Perubahan pola pikir harus terjadi sehingga tidak ada lagi
pernyataan „Temuan peneliti ahli mengatakan begini, maka lakukanlah” karena
guru yang produktif berkarya tidak akan menelan mentah-mentah suatu teori. Bagi
guru yang produktif berkarya, kurikulum pendidikan akan membodohkan dan
melemahkan kemampuan guru apabila guru dilihat sebagai penerima, bukan
produsen pengetahuan.

Tantangan terbesar bagi guru yang produktif berkarya adalah menanyakan
sesuatu yang tidak boleh dan tidak banyak ditanyakan, lalu menindaklanjutinya
dalam penelitian. Bermulai dari tanya dan keingintahuan tersebut pola pikir guru
akan bergerak pada penemuan konseptual baru. Berhentilah berfanatik buta bahwa
segala yang dilakukan para pakar di perguruan tinggi adalah ‗kitab suci‘ bagi
pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Saatnya guru yang produktif berkarya
memosisikan diri lebih bermartabat sebagai pemproduksi pengatahuan.
Selain itu, arus informasi yang serba cepat di era digital saat ini menuntut
guru untuk selalu update atas perkembangan. Hal itu untuk menjaga rasa percaya
diri guru di hadapan siswa. Juga sebagai cerminan, di manakah posisi guru di
antara pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Cukupkah bekal
kompetensi seorang guru untuk ditrasformasikan pada siswa? Tidakkah hal yang
diketahui guru (pengetahuan) juga telah diketahui siswa melalui sumber lain?
Melalui piranti teknologi digital yang begitu akrab di kehidupan mereka, melalui
ipad, tablet, gadged, dan laptop? Fokus permasalahan dalam makalah ini dirumuskan berikut. (1) Apakahkonsep pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT? (2) Mengapa perlu pengembangan kompetensi pedagogik guru
melalui literasi produktif berbasis IT? (3) Bagaimanakah langkah pengembangan
kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT?
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan pembahasan makalah
ini adalah untuk (1) mendeskripsikan konsep pengembangan kompetensi
pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT, (2) mendeskripsikan
perlunya pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif
berbasis IT, dan (3) mendeskripsikan langkah pengembangan kompetensi
pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT?.
Adapun batasan pembahasan makalah ini adalah upaya pengembangan
kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT, berupa
keterampilan menulis dan keterampilan mencipta aplikasi pembelajaran berbasis
IT. Literasi produktif demikian merepresentasi adanya revolusi mental guru dari
penerima pengetahuan menjadi pemproduksi pengetahuan. Wujud hasil literasi
produktif berbasis IT dapat berupa aplikasi pembelajaran berbasis IT dan karya
tulis ilmiah guru yang berbasis digital .

Metode Pada pembahasan makalah ini digunakan teknik pembahasan dengan
pengembangan gagasan Definisi. Teknik pengembangan gagasan jenis ini
menyajikan pembahasan dengan menyampaikan gagasan guna menjawab tanya;
apa artinya dari pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi
produktif berbasis IT. Kemudian teknik tersebut dipadukan dengan teknik
pengembangan gagasan Komparasi-Persamaan. Selain definisi juga diperoleh
pemahaman dengan mencari padanan nama lain dari suatu konsep. Teknik definisi
digunakan untuk pembahasan fokus masalah pertama mengenai konsep
pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT.
Pada fokus masalah kedua digunakan teknik pembahasan dengan
pengembangan gagasan Kausal Akibat–Sebab. Teknik pengembangan gagasan
jenis ini menyajikan pembahasan dengan menyampaikan apa latar belakang yang
mendasari pentingnya pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi
produktif berbasis IT. Pembahasan ini untuk menjawab tanya; mengapa suatu hal
perlu dilakukan. Pada fokus pembahasan kedua disampaikan mengapa perlu
dilakukan pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif
berbasis IT.

Pada fokus masalah ketiga digunakan teknik pengembangan gagasan
Logis-Prosedural. Teknik pengembangan gagasan ini menyajikan pembahasan
dengan menyampaikan bagaimana tahapan atau prosedur pelaksanaan
pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT.
Pembahasan untuk menjawab tanya; bagaimana cara melaksanakan sesuatu. Pada
fokus pembahasan ketiga disampaikan bagaimana prosedur pengembangan
kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT.
Sebagaimana lazimnya suatu penyampaian gagasan, maka pada bagian
akhir pembahasan ini digunakan teknik penyampaian gagasan Evidensi. Teknik pengembangan gagasan jenis ini menyajikan pembahasan dengan menyajikan
simpulan dari beberapa tahapan penyampaian gagasan pada pembahasan
sebelumnya. Sehingga akan diperoleh konsep yang komprehensif tentang apa,
mengapa, dan bagaimana pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui
literasi produktif berbasis IT.

Pembahasan
Konsep Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru Melalui Literasi Produktif
Berbasis IT Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru
Pengembangan kompetensi guru yang terjadi sementara ini lebih
merupakan bentuk turun tangan pemerintah dan berbasis program. Walaupun
sudah merupakan paradigma baru yang berkesinambungan, pengembangan
kompetensi guru dan pengembangan keprofesian berkelanjutan, sejatinya akan
lebih dapat diharapkan pada saat ia menjadi kesadaran kolektif guru dan berbasis
gerakan.

Data hasil UKG tahun 2015 menujukkan bahwa terjadi disparitas pada
hasil UKG di berbagai daerah. Hal itu kemudian dimaknai bahwa hampir di
semua daerah terjadi disparitas kompetensi guru. Sebagai follow up-nya kemudian
diadakan program diklat pascaUKG yang berlabel Diklat Guru Pembelajar. Dalam
pemaknaan saya, diklat guru pembelajar merupakan diklat yang
mengimplementasikan tagline sharing and growing together. ‗Berbagi dan
bertumbuh bersama‘. Selanjutnya program Guru Pembelajar tersebut akan
berganti dengan program Peningkatan Karier Guru (PKG).
Guna memangkas disparitas kompetensi guru, hal paling mendasar
adalah kemauan memanfaatkan data pemetaan hasil UKG 2015. Mengetahui
posisi dan kondisi kompetensi diri, guru berpeluang mengubah citranya dalam
dunia pendidikan. Bahwa guru bukan lagi menjadi bagian dari permasalahan
pendidikan, namun guru solusi bagi pendidikan di Indonesia. Saat terpetakan
kelemahan kompetensinya, maka sejatinya guru sudah paham bahwa kompetensi
itulah yang perlu terus ditingkatkan. Solusinya berupa belajar mandiri atau dengan
memanfaatkan guru yang hasil UKGnya baik untuk menularkan ilmunya di forum
guru.

Upaya memangkas disparitas kompetensi guru, sebaiknya bukan berbasis
program namun berbasis gerakan. Keterbatasan keterjangkauan, pendanaan, pengontrolan, dan lain-lain akan menjadi kendala dalam penanganan berbasis
program. Namun jika penanganan dilakukan berbasis gerakan maka hasilnya bisa
lebih maksimal. Guru akan terbiasa meningkatkan kompetensinya secara mandiri
maupun dengan berbagi sesama guru dalam budaya sharing and growing
together.

Sekian lama rasanya guru terlalu bergantung pada pemerintah. Padahal
diklat kedinasan yang terprogram pastinya akan menghadapi banyak kendala.
Ketepatan sasaran, ketercakupan, pendanaan, dan penyalahgunaan karena
kurangnya kontrol. Cukuplah kiranya pemerintah berperan sebagai pemantau dan
pemberi assesmen terhadap berbagai pencapaian guru. Perlu disusun standar
penghargaan guru sehingga tidak selalu sama rata sama rasa.
Literasi-Produktif Berbasis IT

Kata literasi menjadi kata yang tiba-tiba kian banyak dijumpai. Menjalarmenular dari satu disiplin ke disiplin yang lain, dari satu forum ke forum lain.
Dalam pidato Hardiknas pada 2 Mei 2016 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
menyebutkan pentingnya literasi: literasi membaca-menulis dan berhitung, literasi
sains, literasi teknologi, dan literasi budaya.

Beragam tafsir pemaknaan terhadap kata ‗literasi‘. Menurut Darma
(2014: 4) Istilah itu berasal dari kata litera, yaitu leter atau huruf. Istilah itu
kemudian dimaknai ganda sebagai ‗proses memahami huruf‘ (membaca), dan
proses memproduksi huruf‘ (menulis). Sehingga literasi secara sempit dimaknai
sebagai aktivitas baca-tulis. Dengan demikian, gerakan literasi bermakna ‗upaya
meningkatkan budaya baca dan tulis‘.

Menurut Kern (2000: 3) literasi terkait dengan kompetensi membaca dan
menulis. Namun secara luas juga terkait aktivitas berbahasa lainnya yaitu
berbicara dan mendengarkan. Empat keterampilan bahasa tersebut merupakan
catur-tunggal. Membaca dan mendengarkan untuk mendapatkan pemahaman,
kemudian dari pemahaman tersebut dilakukan pengolahan dan penyampaian
kembali dengan bahasa yang berbeda melalui berbicara dan menulis.
Konsep literasi sebagai memahami dan memahamkan melahirkan istilah literasiproduktif dan literasi-reseptif. Konsep ini merujuk pada upaya memahami melalui
aktivitas berbahasa pasif (membaca, menyimak), dan upaya memahamkan melalui
aktivitas berbahasa aktif (menulis, berbicara). Dengan demikian literasi produktif dibatasi maknanya sebagai proses transfer informasi melaui keterampilam menulis
yang mampu memahamkan melalui pemanfaatan teknologi.
Menurut Yulianto (2015: 4) penulis yang menuliskan hasil
pemahamannya dari sesuatu, pada umumnya tulisannya tidak persis sama dengan
sumber informasi yang didapat. Hal itu merupakan reflektivitas pikiran atau
perasaan penulis. Dengan demikian, tulisan yang dihasilkan merupakan
pengetahuan yang diproduksi oleh penulis untuk diketahui pembaca.
Literasi digital secara umum dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk
menggunakan media digital seperti ipad, tablet,gadged, laptop, dan jenis media
layar lainnya yang bukan lagi menggunakan media cetak (buku atau kertas).
literasi digital tidak serta-merta menggantikan pentingnya literasi tradisional
(cetak) sebagai suatu tahapan. Dengan demikian literasi digital lebih merupakan
kemampuan untuk membaca, menulis, serta menganalisis objek digital yang
biasanya tersaji dalam layar yang bukan cetak.

Menyikapi kondisi demikian, masyarakat Indonesia layaknya masyarakat lain di
dunia, khususnya para pelajar secara aktif memanfaatkan media digital sebagai
sumber informasi dan pengetahuan mereka. Secara sadar atau tidak,
kecenderungan tersebut telah menggeser peran media cetak. Deretan buku-buku
tebal dan novel serta berbagai media koran mulai dialihkan ke bentuk digital.
Bahkan sejak pemberlakuan kurikulum 2006 (KTSP) masyarakat pendidikan
Indonesia sudah dikenalkan dengan BSE (Buku Sekolah Elektronik) yang tidak
lain juga merupakan bentuk ebook atau buku digital.

Hal itu menunjukkan bahwa dibutuhkan wujud literasi baru yang
dibutuhkan guru di era digital. Bukan berupaya menjauhkan anak didik dari
gadged, namun memberikan alternasi aplikasi-edukatif untuk menjadi teman
belajar mereka di layar digital masing-masing. Dengan demikian keberadaan
teknologi menjadi pembawa pengetahuan yang meningkatkan literasi bangsa.
Booth (2006: 91) mengemukakan bahwa teknologi telah memengaruhi
tidak hanya cara dan gaya hidup melainkan juga cara dan gaya belajar. Perubahan
ini tentu saja menuntut perubahan terhadap cara pendidikan literasi didekati dan
dianalisis. Kesenjangan antara sarana dan prasarana sekolah yang peninggalan
abad ke-19, kompetensi guru yang merupakan lulusan LPTK abad ke-20, serta
siswa yang merupakan generasi milenial-digital, hanya dapat diperantarai dengan
literasi berbasis IT.

Literasi Digital: From Print to Screen Thomas Friedman pernah mengejutkan masyarakat dengan bukunya The World Is Flat (2005: 42). Dunia ternyata datar dan dunia berada di ujung jari-jari manusia. Hal itu menemukan relevansinya ketika dunia digital benar-benar telah tiba. Penggunaan media digital seperti ipad, tablet,gadged, laptop, dan jenis
media layar lainnya mulai menggeser penggunakan media cetak (buku atau
kertas).
Perkembangan teknologi digital tersebut selain berpegaruh terhadap
kehidupan sosial, juga berpengarug terhadap pemaknaan literasi. Literasi terkini
dapat dimaknai sebagai melek teknologi, politik, ekonomi, dll. Literasi juga dapat
dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi tertulis
atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat
bagi masyarakat luas. Booth (2006: 91) menegaskan bahwa teknologi telah memengaruhi tidak hanya cara dan gaya hidup melainkan juga cara dan gaya belajar. Perubahan ini
tentu saja menuntut perubahan terhadap cara pendidikan literasi didekati dan
dianalisis. Oleh karena itu pendidikan dan pembelajaran sepatutnya kian
mengakrabkan pembelajar dengan teknologi. Namun pada kenyataannya
sementara ini terkadang teknologi masih dikambinghitamkan dan dijauhkan dari
proses pembelajaran di sekolah.

Apa penyebab moral anak bangsa merosot? Teknologi! Apa penyebab
budaya baca rendah? Teknologi! Apa penyebab jiwa sosial anak muda lemah?
Teknologi! Apa penyebab cara curang pelaksanaan Ujian Nasional marak?
Teknologi! Menyesakkan sekali saat kita hanya bisa menjawab dengan
mengkambinghitamkan teknologi atas ketidakberdayaan kita memanfaatkan
secara tepat.

Saatnya dunia pendidikan berdamai dengan teknologi, bukan lagi
mengkambinghitamkan teknologi. Bukan menjauhkan anak-anak dari tablet, ipad,
atau gadged siswa, namun belajar mengisi piranti teknologi yang digunakan
siswa dengan aplikasi-aplikasi inovasi-edukatif karya guru. Pengembangan
kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT merupakan salah
satu alternatif solusi dalam mencipta aplikasi berbahasa Indonesia pembawa
pengetahuan.

Urgensi Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru Melalui Literasi Produktif
Berbasis IT
“Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk
mencari alamat, untuk mengetahui harga-harga, untuk melihat lowongan
pekerjaan, untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, ingin tahu berapa
persen discount obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca
subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan hiburan.” demikian gambaran
masyarakat kita bagi cerpenis kenamaan; Seno Gumira Ajidarma, waktu berpidato
di Penerimaan Hadiah Sastra Asia Tenggara di Bangkok.
Suatu penggambaran yang menegaskan bahwa aib masyarakat kita kini
bukan lagi buta huruf (illiterare). Buta huruf sudah mampu kita tangani dengan
baik. Namun demikian, persoalan masyarakat kita sekarang adalah rendahnya
minat baca. Tidak terkecuali di kalangan pelajar, mahasiswa, dan guru/dosen yang
juga menjadi korban propaganda televisi (budaya nonton). Dampaknya, pola pikir
jadi menumpul dan tergantikan budaya meniru (imitatif), suka-suka aja (permisif),
hanya suka beli dan gila belanja (konsumtif).

Kondisi demikian mengembalikan kita pada budaya dongeng (budaya
oral) akibat maraknya budaya nonton dan rendahnya budaya baca. Budaya oral di
masyarakat kita kini kian massif dengan dominannya tanyangan televisi dengan
infotainment yang berpilar pada budaya gosip. Ironisnya, gosip tentang artisselebritis tidak akan pernah berisi pencerahan, melainkan sekadar merangsang
gaya hidup mengumbar kegelamoran. Maka masyarakat kita (para penonton itu)
tumbuh dengan mentalitas suka berkomentar -yang dangkal, tidak ilmiah,
sekenanya, kacau, dan cenderung emosional. Budaya curhan dan bergosip
demikian itu yang kian menjauhkan kita dari kebiasaan baca tulis (budaya
literasi).

Data statistik UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks minat
baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya dalam setiap 1000 orang, hanya
ada satu orang yang punya minat baca. Dalam keadaan demikian, gerakan literasi
menjadi relevan, solutif, visioner, briliant, namun butuh keberanian. Menurut
Retnaningdyah (2014: 25-26) Rendahnya ranking Indonesia di tes PISA adalah
wajar karena bukan sekadar kebiasaan membaca di kelas dan di rumah. Di
Indonesia critical literacy skill belum menjadi bagaian dari proses pembelajaran.

Selain itu, tidak wajarkah bila siswa, baik yang di rumah maupun yang di
sekolah, akrab dengan teknologi? Apakah salah bila siswa suka berlama-lama
dengan tablet, ipad, gadged, dan laptop? Bukankah abad 21 ini memang
menyambut mereka dengan kemajuan teknologi yang demikian? Bukankah era
digital memang era mereka dan era masa depannya nanti? Tidak kejamkah bila
ada upaya menjauhkan anak-anak dari dunia digital? Sangat tidak adil bila
mengkambinghitamkan teknologi sebagai perusak mentalitas anak bangsa.
Sejatinya sudah diluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh
Kemendikbud sejak 18 Agustus 2015. Walaupun sudah dituangkan dalam
Permendikbud nomor 23 tahun 2015 namun banyak sekolah belum
mengimplementasikan. Bahkan ada dinas pendidikan kota dan kabupaten yang
hGLS untuk masing-masing jenjang sudah disediakan oleh pihak Kemendikbud
berupa buku digital (ebook).

Guru juga perlu melakukan self correction. Sudahkan menjadi ―guru yang
tidak hanya sekadar memberi contoh, namun harus menjadi contoh bagi siswasiswinya‖ (Hairul, 2014: 139). Kiranya dengan mengupayakan diri menjadi guru
sebagai peneliti kita meneladankan sosok pembelajar yang literat. Bahwa kita
guru yang terus belajar, selalu berkreasi, berinovasi, serta selalu merefleksi dan
mengevaluasi yang kita lakukan demi pembelajaran yang lebih efektif.
Pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif
berbasis IT relevan dengan penekanan upaya peningkatan mutu guru yang
dilakukan dengan pendidikan dalam jabatan guna meningkatkan efektivitas
mengajarnya, mengatasi persoalan-persoalan praktis dalam pengelolaan kegiatan
belajar-mengajar, dan meningkatkan kepekaan guru terhadap perbedaan
individual para siswa yang dihadapi. Juga mengakomodir pandangan filosofis
Buya Syafi‘i Maarif (dalam Arif, 2014: 285) yang mengonsepkan sosok guru
yang menyatu dengan profesinya dan dengan penuh rasa cinta. Konsep serupa
juga dikemukan Hairul (2014: 15) bahwa guru kebetulan tidak akan pernah
menjadi guru betulan, apalagi guru betul-betul apabila dalam dirinya tidak tumbuh
panggilan jiwa, kemurnian motivasi untuk menginspirasi, untuk meneladankan,
dan menularkan kebaikan pada siswa dan orang lain.
Langkah Pengembangan Kompetensi Pedagogik Guru Melalui Literasi Produktif
Berbasis IT.

Di tengah maraknya penggugahan untuk meningkatkan budaya literasi
bangsa, guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Indonesia (IGI) berpikir
melampaui konteks masanya. Suatu lompatan pemikiran yang tidak sekadar
berpusat pada mengatasi rendahnya literasi, namun mencoba mengoptimalkan
potensi-potensi yang ada. Menyiapkan trainer guna menjadi ujung tombak
terwujudnya sejuta guru mahir literasi produktif berbasis IT sebelum 2021.
Gerakan literasi produktif berbasis IT perlu pemberian kesempatan seluasluasnya dalam seleksi keikut-pesertaan ToT. Tahap seleksi yang dilakukan
terhadap guru peminat yang memenuhi kriteria harus berlangsung terbuka. Calon
peserta harus mempunyai naskah bertopik literasi. Selain itu juga harus pernah
menyajikan literasi di forum ilmiah dengan bukti video presentasi. Menjadi
prasyarat pula pernyataan kesanggupan untuk melatih literasi produktif di
berbagai kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tahap seleksi demikian merupakan
wujud kesungguhan untuk mencari potensi-potensi di berbagai penjuru tanah air
guna dioptimalkan menjadi trainer nasional literasi produktif berbasis IT.
Kemasan kegiatan yang menjunjung tinggi semangat guru untuk berbagi
dan bangkit bersama (Sharing and Growing Together). Pada acara ToT Literasi
Produktif berbasis IT, para Master-Trainer Nasional dari berbagai daerah ikhlas
berbagi menularkan pengetahuan dan keterampilannya. Penularan ilmu tersebut
penuh nuasa keakraban kekeluargaan, jauh dari kesan kaku dan saling menggurui.
Semua sesi berlangsung penuh kesadaran dan kesabaran bersama bahwa setiap
kita adalah pembelajar sejati, sama-sama haus ilmu dan pengembangan
kompetensi diri. Jadilah semua pada kegiatan itu adalah perpaduan antara
kemauan yang kuat untuk menimba ilmu dan keikhlasan yang tulus untuk berbagi.
Gerakan yang dipandegani IGI untuk mewujudkan sejuta guru mahir
literasi produktif berbasis IT dalam kurun waktu lima tahun ke depan, kian
menemukan wujud nyata. Optimisme terbentuk karena pencanangan itu segera
dimulai dengan langkah awal yang menggebrak. Langkah awal yang lebih tepat
disebut sebagai langkah awal yang menakjubkan. Satu diantaranya dengan
diselenggarakan ToT Literasi Produktif Berbasis IT. Melalui kegiatan tersebut
sejatinya separuh pekerjaan untuk menuju sejuta guru mahir literasi produktif
sudah selesai. Karena melihat antusiasme 150 trainer yang ada cukup menjanjikan
untuk terus meng-kawal Gerakan Literasi Produktif Berbasis IT.

Seperti halnya yang tergambar dari 6 kanal besar pemfokusan bidang
menuju literasi produktif berbasis IT secara nasional. Diantaranya adalah (1) kanal
pembelajaran menggunakan media komik digital untuk pembelajaran melalui
Sagusamik (satu guru satu komik). (2) Kanal server edukasi dengan program
Sagusatab (satu guru satu tablet). (3) Kanal optimalisasi guru dalam penggunaan
website dan blogger melalui Sagusablog (satu guru satu blog). (4) kanal
penggunaan aplikasi android untuk pembelajaran melalui Sagusanov (satu guru
satu inovasi) dan (5) menggairahkan guru untuk menulis kreatif dengan program
Sagusaku (satu guru satu buku), dan (6) pemahiran guru dalam penulisan karya
tulis ilmiah dengan program Sagusakti (satu guru satu KTI).
Tiap kanal rata-rata diikuti oleh 25 orang, maka 150 peserta ToT setelah
digembleng selama mengikuti kegiatan mempunyai modal yang cukup untuk
percaya diri menularkan ketrainerannya pada guru lain. Semua itu menjadi mutlak
mengingat sejatinya banyak guru di luar sana sedang haus untuk mendapatkan
program peningkatan kompetensi diri ala IGI. Suatu program yang identik dengan
lompatan pemikiran yang menakjubkan. Hal itu tiada lain merupakan upaya
mempertemukan kesenjangan yang melanda dunia pendidikan, yakni kesenjangan
antara siswa abad ke-21, guru abad ke-20, dan sarana sekolah abad ke19. Dalam
perannya demikian, IGI kian mengukuhkan dirinya sebagai organisasi guru yang
konsen dan konsisten pada upaya meningkatan kompetensi guru.
Beragam produk hasil pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui
literasi produktif berbasis IT, baik berupa buku, karya tulis, aplikasi pembelajaran,
media pembelajaran, dan lain sebagainya merupakan wujud kepedulian guru agar
pembelajar akrab dengan IT.

SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada subbab sebelumnya, maka pembahasan
dalam makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut. Pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif berbasis IT merupakan proses transfer informasi melaui keterampilam menulis yang mampu memahamkan pembaca melalui pemanfaatan teknologi. Disebut literasi produktif karena aktivitas menulis merupakan aktivitas keterampilan
berbahasa produktif. Disebut berbasis IT karena menggunakan piranti teknologi
terbaru yang dikenal dengan istilah media digital.

Pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif
berbasis IT relevan dilakukan karena budaya literasi bangsa yang masih rendah.
Selain itu juga rendahnya budaya kreatif-produktif yang juga merambah ke semua
kalangan termasuk dunia akademik. Dimaksudkan juga untuk mengakrabkan
pembelajar dengan penggunaan teknologi sesuai dengan era digital dengan filosofi
pembelajaran abad ke-21.

Pengembangan kompetensi pedagogik guru melalui literasi produktif
berbasis IT dilakukan berupa kegiatan dan gerakan. Wujud gerakan untuk
menggiatkan literasi produktif berbasis IT bagi guru antara lain, Sagusatab (satu
guru satu tablet), Sagusamik (satu guru satu komik), Sagusablog (satu guru satu
blog), Sagusanov (satu guru satu inovasi), Sagusaku (satu guru satu buku), dan
Sagusakti (satu guru satu KTI)

DAFTAR RUJUKAN

Arif, Mukhrizal. 2014. Pendidikan Posmodernisme: Telaah Kritis Pemikiran
Tokoh Pendidikan. Yogyakarta. Ar-ruzz Media.

Booth, D. 2006. Reading Doesn‟t Matter Anymore. Markham. ON: Pembroke.
Darma, Budi. 2014. Literasi: Jatidiri dan Eksistensi. (dalam buku Membangun
Budaya Literasi, Prosiding Seminar Nasional Plus ‗Membangun
Peradaban Generasi Emas Melalui Literasi). Surabaya: Unesa University
Press.

Hairul, Mohammad. 2013. Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (dalam
Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia). Yogyakarta:
Gress Publishing.

_______2014. Reading Emergency Zone (REZ): Miniatur Gerakan Literasi di
Sekolah dan Alternasi Pengembangannya (dalam buku Membangun
Budaya Literasi, Prosiding Seminar Nasional Plus ‗Membangun
Peradaban Generasi Emas Melalui Literasi). Surabaya: Unesa University
Press.

_______2014. Unesa Darurat Transformasi Diri (dalam buku 50 Tahun Peran
Unesa di Dunia Pendidikan: Kumpulan Esai Pilihan). Surabaya: Unesa
University Press.

_______2015. Bukan Guru Kebetulan: Kumpulan Esai Terpilih. Surabaya: Revka
Petra Media.

_______2015. Dari Literasi Menuju Transfer Informasi (dalam buku
Mengembangkan Literasi di Sekolah, Prosiding Seminar Literasi ke-2).
Surabaya: Unesa University Press.

Kern, Richard. 2000. Literacy and Language Teaching. Oxford: Osford
University.

Kinchelo, Joe L. 2014. Guru sebagai Peneliti : Pemberdayaan Mutu Guru dengan
Metode Panduan Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ircisod.

Retnaningdyah, Pratiwi. 2014. Menapak Tangga Literasi. dalam Unesa media
komunikasi dan informasi, hal 25-26 nomor 68 tahun X V – April.

Yulianto, Bambang. 2015. Kampus sebagai Pusat Literasi. (dalam buku
Mengembangkan Literasi di Sekolah, Proseding Seminar Literasi ke-2).
Surabaya: Unesa University Press

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s