MODEL PELATIHAN BERBASIS ANDRAGOGI BERBANTUAN CMS MOODLE UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU SD

MODEL PELATIHAN BERBASIS ANDRAGOGI
BERBANTUAN CMS MOODLE UNTUK MENINGKATKAN
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU SD
Sri Giarti

ABSTRAK
Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan model pelatihan
mandiri yang dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru SD dalam menulis
PTK. Pelatihan selama ini belum dilakukan secara efektif, guru masih
mengandalkan pelatih tatap, guru masih tergantung dari pelatih belum belajar
mandiri, metode pelatihan yang ada belum dilakukan secara berkesinambungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pelatihan penulisan karya
tulis ilmiah berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle. Penelitian ini dilakukan
dengan R & D mencakup dua tahapan. Pada tahap studi pendahuluan, dilakukan
kajian pustaka serta survei lapangan tentang model pelatihan yang digunakan
selama ini. Pada tahap pengembangan, dilakukan penyusunan draf model, validasi
ahli dan uji lapangan terbatas. Teknik analisis data menggunakan teknik uji beda
Mann-Whitney U test. Hasil R & D menunjukkan temuan: 1) model pelatihan
dilakukan melalui analisis, perencanaan, pengembangan, implementasi, dan
evaluasi; 2) tingkat validitas model berada pada kategori baik; dan 3) kompetensi
guru lebih tinggi dari sebelum menggunakan model.

Kata kunci: CSM Moodle; andragogi; kompetensi pedagogik.

PENDAHULUAN
Kompetensi guru merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Depdiknas,
2008). Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan
dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Undang-undang
No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) menyebutkan bahwa
kompetensi guru meliputi kompetensi: a) pedagogik, b) kompetensi kepribadian,
c) kompetensi sosial, dan d) kompetensi professional. Berdasarkan keempat
kompetensi itu yang menjadi fokus penelitian ini ialah kompetensi pedagogik
dimana guru diharapkan mempunyai kemampuan melakukan tindakan reflektif
yang dituangkan dalam karya tulis ilmiah.

Kemendiknas (2010: 1) menjelaskan bahwa guru dituntut untuk memiliki
kompetensi agar dapat membuat karya tulis ilmiah. Namun masih banyak guru
yang memiliki kompotensi pedagogik yang rendah.
Hasil wawancara dengan para pemangku kepentingan di jajaran UPTD
Dikdas dan LS Kec. Wonosegoro – Boyolali – Jawa Tengah ditemukan gejalagejala berikut: (a) guru mengalami keterbatasan buku/sumber belajar, (b) kurang
waktu untuk mengikuti pelatihan dikarenakan sibuk dengan tugasnya sebagai
guru, (c) rendahnya kompetensi guru dalam menulis karya tulis ilmiah hal ini
ditunjukkan guru belum menghasilkan hasil penelitian, (d) metode pelatihan yang
diadakan belum efektif, hal ini dikarenakan jumlah peserta pelatihan terlalu
banyak, waktu pertemuan terbatas dan harus berkumpul dalam satu tempat dan
satu ruang yang sama. Sedangkan guru yang sudah menghasilkan karya tulis
ilmiah juga mengalami kendala yaitu kurangnya referensi bacaan atau sumber
serta keterbatasan waktu dalam mengikuti pelatihan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang diselenggarakan
selama ini belum dilakukan secara efektif, ini terlihat dari guru masih
mengandalkan pelatih tatap muka padahal seharusnya guru harus mampu belajar
mandiri tanpa tergantung dari pelatih selain itu metode pelatihan belum dilakukan
secara berkesinambungan. Keadaan ini akhirnya berdampak pada kompetensi
guru SD dalam menulis karya tulis ilmiah. Selanjutnya, hasil studi tentang model
pelatihan yang digunakan selama ini adalah menggunakan model pelatihan yang
mengharuskan guru berkumpul bersama untuk mengikuti pelatihan tanpa
memberikan kesempatan pada guru untuk mengaktualisasi diri hal itu
menyebabkan guru menjadi bosan sehingga materi tidak dapat diterima oleh guru
secara maksimal.

Berpijak pada identifikasi permasalahan kesenjangan kompetensi guru SD
dan kebutuhan perlunya sebuah model pelatihan mandiri, maka penulis
mengembangkan produk model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS
Moodle. Secara spesifik permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian R
& D ini adalah: 1) bagaimana mengembangkan model pelatihan berbasis
andragogi berbantuan CMS Moodle untuk meningkatkan kompetensi pedagogik
guru?, 2) bagaimanakah tingkat validitas modelnya?, dan 3) apakah hasil
pelatihan lebih tinggi dari sebelum menggunakan model yang dikembangkan?

Adapun tujuan khusus yang akan dicapai adalah: 1) mengembangkan model
pelatihan penulisan karya tulis ilmiah berbasis andragogi berbantuan CMS
Moodle untuk meningkatkan kompetensi guru SD; 2) mengetahui tingkat validitas
model pelatihan; dan 3) mengetahui perbedaan hasil pelatihan sebelum dan
sesudah menggunakan model pelatihan.

Berbagai penelitian R & D berikut membuktikan bahwa model pelatihan
berbasis andragogi efektif memperbaiki hasil pembelajaran. Endah Yuli Astanti
(2016) menemukan bahwa model andragogi secara signifikan dapat
meningkatkan partisipasi jamaah sebelum dan sesudah menggunakan model
andragogi. Efektifitas hasil menunjukkan bahwa konsep andragogi lebih efektif
karena mempunyai motivasi dan minat yang lebih tinggi.

Hasil Penelitian Suhanji (2013) tentang konsep pendidikan orang dewasa
menemukan bahwa karakteristik pendidikan orang dewasa merupakan
pengembangan dari konsep diri, peranan pengalaman, kesiapan belajar dan
orientasi belajar. Demikian juga penelitian yang dilakukan Ayu Nurchinta dan
Danang Tandyonomanu (2015) tentang penerapan model pembelajaran andragogi
untuk meningkatkan hasil mata diklat pemetaan keluarga sejahtera di bidang
pelatihan dan pengembangan BKKBN Provinsi Jawa Timur menemukan bahwa
penerapan model pembelajaran andragogi dapat meningkatkan hasil mata diklat
Berkaitan dengan pemilihan teknologi penyampaian materi menggunakan
Course Management System (CMS) Modular Object Oriented Dynamic Learning
Environment (Moodle) juga didukung adanya kajian teoretik dan hasil penelitian
berikut: (1) Penelitian pengembangan e-Learning yang dilakukan Yaniawati
(2012) menemukan bahwa model pembelajaran dengan sistem e-Learning
menggunakan aplikasi Moodle berjalan secara efektif; (2) Burhanuddin (2011)
menemukan bahwa tingkat efektivitas pembelajaran menggunakan Moodle
mencapai 80.3%.

Model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle
dikembangkan sebagai sebuah produk penelitian yang memiliki keunggulan lebih
dibandingkan model sejenis. Keunggunlannya terletak pada desain yang di
dasarkan pada prinsip-prinsip andragogi, yaitu: 1) model pelatihan dikaitkan
dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta pelatihan, 2) model pelatihan
sesuai dengan kebutuhan dan pekerjaan peserta pelatihan, 3) model pelatihan dapat menjadi sarana peningkatan pemecahan masalah yang relevan dengan
kebutuhannya profesinya, 5) mendorong terwujudnya pembelajaran sepanjang
hayat, dan 6) memanfaatkan berbagai media, metode, teknik dan pengalaman
belajar.

Desain model berbasis andragogi ini selanjutnya diintegrasikan dengan
teknik penyampaian materi menggunakan CMS Moodle. Dengan demikian
keunggulan desain model pelatihan ini jelas membedakan dengan model sejenis
yang belum dirancang berdasarkan prinsip andragogi dan tidak diintegrasikan
dengan CMS Moodle. Berpijak pada keunggulan tersebut maka penelitian ini akan
mengembangkan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle
untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru SD. Sehingga permasalahan
tentang rendahnya kompetensi pedagogik guru dalam menulis PTK dapat
dipecahkan.
Pelatihan merupakan salah satu upaya yang dilaksanakan secara terus
menerus dalam rangka pembinaan guru. Mondy (2008) dan Noe (2014: 351)
berpendapat bahwa pelatihan merupakan aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk
mempermudah pembelajaran tentang kompetensi-kompetensi yang berkaitan
dengan pengetahuan, keterampilan sikap dan perilaku. Lebih lanjut, Noe (2014)
menyebutkan bahwa pelatihan bagi guru bertujuan agar guru: (1) memperbaiki
kinerjanya mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikapnya; (2)
memperbaharui keahliannya sesuai dengan kemajuan teknologi; (3) membekali
guru baru agar kompeten dalam pekerjaan; (4) membantu memecahkan masalah
yang dihadapi guru dalam menjalankan tugasnya; (5) mengembangkan karier
guru.

Berkaitan dengan konsep andragogi, Bryson, Reeves, Fransler, dan Houlen
seperti dikutip oleh Suprijanto (2007: 12), Knowles (1980) seperti dikutip oleh
Marzuki Saleh (2012: 166) menjelaskan bahwa hakikat andragogi merupakan
aktivitas pendidikan untuk membantu orang dewasa untuk mendapatkan
pengetahuan menggunakan sebagian waktu dan tenaganya. Berdasarkan pada
hakikat model pelatihan dan hakikat andragogi seperti telah paparkan di atas,
maka model pelatihan berbasis andragogi hakikatnya ialah langkah-langkah
pembelajaran yang dirancang untuk mempermudah pembelajaran tentang
kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku yang dilakukan secara mandiri tanpa terikat oleh waktu dan
pengajarnya.

Sudjana (2007: 2) dan Haris Mudjiman (2011: 163) menyatakan mengenai
prinsip-prinsip andragogi yaitu;

  1. Konsep diri, artinya orang dewasa mampu mengarahkan diri dan mandiri olehkarena itu pembelajaran bagi orang dewasa harus berorientasi pada masadepan, berpikir dan bertindak sesuai kehidupan nyata.
  2. Akumulasi pengalaman, artinya orang dewasa mempunyai pengalaman yang
    berbeda oleh karena itu dalam pembelajarannya diperlukan pemilihan dan
    penggunaan metode serta teknik kepelatihan yang melibatkan peran serta
    peserta pelatihan.
  3. Kesiapan belajar, yaitu materi pelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan
    dan pekerjaan peserta pelatihan.
  4. Ingin segera memanfaatkan hasil belajar, artinya pembelajaran haruslah
    berorientasi pada penguasaan keterampilan (skill) dan pemecahan masalah
    yang dihadapi sehingga hasil belajar dapat segera dimanfaatkan setelah
    pembelajaran selesai.
  5. Memiliki kemampuan belajar, yaitu pembelajaran disesuaikan dengan
    kemampuan belajar masing-masing oleh karena itu pelatih perlu mendorong
    peserta dalam menentukan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
  6. Mampu belajar efektif dengan melibatkan aktivitas mental dan fisik, artinya
    orang dewasa sudah mampu melibatkan fungsi otak kiri dan otak kanan
    menggunakan intelek dan emosi serta memanfaatkan berbagai media, metode,
    teknik dan pengalaman belajar.

Melihat prinsip-prinsip andragogi seperti dipaparkan diatas maka model
pelatihan ini selalu dikaitkan dengan kegiatan belajar mandiri yang menekankan
pada karaketristik belajar orang dewasa sehingga melalui model pelatihan ini
orang bisa belajar kapan saja dan di mana saja secara mandiri tanpa terikat oleh
waktu dan pengajar jika dipadukan dengan CMS (Course Management System)
Moodle (Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment).
CMS merupakan salah satu software pembelajaran berbasis web (web
based instruction) dalam sistem e-learning. Karena Moodle merupakan subsistem
dari sistem e-learning. Dougiamas seperti dikutip oleh Limongelli, Sciarrone & Vaste (2011: 2) dan Surjono (2013: 6) berpendapat bahwa Moodle adalah
perangkat lunak untuk membuat materi pelatihan secara online, mengelola
kegiatan pelatihan, memfasilitasi interaksi, komunikasi, kerjasama antar pelatih
dan peserta pelatihan. Moodle ini mendukung berbagai aktivitas administrasi
pelatihan, peyampaian materi, penilaian (tugas, quiz), pelacakan/tracking &
monitoring, kolaborasi, dan komunikasi/interaksi.

METODE PENELITIAN

Penelitian dan pengembangan ini mengacu langkah-langkah penelitian dan
pengembangan dari Sukmadinata (2015: 184), yaitu studi pendahuluan, desain
dan pengembangan produk dan pengujian produk. Langkah-langkah penelitian
dan pengembangan ini hanya sampai pada tahap ke-2, yaitu desain dan
pengembangan produk. Tahap pengujian produk modul tidak dilakukan.
Keputusan ini diambil berdasarkan keterbatasan waktu. Meskipun tidak dilakukan
pengujian keefektifan produk, namun pada tahap ini dilakukan uji lapangan
terbatas dengan membandingkan pre test dan post test sehingga dapat dilihat
dampak dari hasil tes tersebut. Penelitian ini dilakukan di Dabin Putra Serang IV
UPTD Dikdas dan LS kec. Wonosegoro-Boyolali dengan subyek penelitian
berjumlah 7 guru SD.

Prosedur penelitian dilakukan melalui dua tahap yaitu: (1) studi
pendahuluan dan (2) desain dan pengembangan. Pada saat studi pendahuluan
dilakukan analisis kebutuhan pelatihan menggunakan instrumen wawancara dan
studi dokumen lapor bulanan SD pada bulan Mei 2016. Selanjutnya, pada tahap
desain dan pengembangan penulis mengembangkan draft awal model pelatihan
yang mencakup: (a) panduan untuk pelatih, terdiri dari panduan login pelatih,
setting pelatihan, mengungah materi dalam CMS, mengimpor kuis, mengcopy
materi, mengunggah tugas, memberi grade, memberi komentar, memberi inisiasi
forum diskusi dan chatting; (b) panduan untuk peserta pelatihan, mencakup cara
login, ganti kata kunci, mengunduh materi, mengerjakan tugas, mengerjakan kuis,
mengikuti forum diskusi, menyampaikan pesan, chatting; (c) rancangan pelatihan,
meliputi Silabus atau Program mapping (peta program) dan skenario pelatihan;
(d) materi pelatihan disusun dalam bentuk teks yang dipadukan dengan gambar
atau ilustrasi multimedia yang diunggah dalam portal pelatihan, dan merupakan
bagian dari isi panduan peserta pelatihan dan pelatih; (e) instrumen evaluasi pelatihan ini berbentuk pilihan ganda yang dirancang secara online,; (f) portal
pengembangan model pelatihan PTK menggunakan CMS Moodle dirancang
sesuai fitur Moodle.

Setelah model pelatihan telah lengkap dengan panduan-panduannya,
kemudian dilakukan uji validasi. Uji validasi ini bertujuan untuk mengetahui
kelebihan dan kelemahan model secara konseptual menurut para ahli, ketepatan
teori yang digunakan, sehingga memperoleh kesahihan isinya. Validasi ini
melibatkan tiga orang validator yang terdiri dari 1 orang ahli model pelatihan, 1
orang ahli materi PTK dan 1 orang ahli media Moodle.
Analisis data pada uji validitas model menggunakan teknik analisis
deskriptif kategori dan pada uji coba lapangan terbatas dilakukan pengujian
dengan teknik uji Mann Whitney U test dengan menghitung perbedaan rerata hasil
pretest dan posttest. Namun sebelum melakukan analisis data, terlebih dahulu
dilaksanakan uji normalitas dan Gain Skor.

PEMBAHASAN
Hasil studi pendahuluan tentang kebutuhan model pelatihan PTK diperoleh
permasalahan utama yang menjadi pijakan dalam penelitian dan pengembangan
ini yaitu rendahnya kompetensi pedagogik guru dalam menulis PTK, sehingga
terjadi berbagai kesenjangan: kemandirian guru yang belum mencukupi untuk
mengakses sumber-sumber karya ilmiah dan belum memadainya kemampuan
pelatih dalam merancang model pelatihan yang memungkinkan guru untuk belajar
secara mandiri.

Berpijak pada kebutuhan seperti tersebut di atas, maka solusinya adalah
perlu dikembangkan model pelatihan yang relevan dengan kondisi guru yang
harus mengikuti pelatihan di sela-sela kesibukannya sebagai guru, yaitu model
pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle.
Model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle ini
dikembangkan sebagai sebuah produk penelitian yang memiliki keunggulan lebih
dibandingkan model pelatihan lainnya. Keunggulanya terletak pada desainnya
yang di dasarkan pada prinsip-prinsip andragogi, yaitu: 1) model pelatihan
dikaitkan dengan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta pelatihan, 2) model
pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan pekerjaan peserta pelatihan, 3) model pelatihan dapat menjadi sarana peningkatan pemecahan masalah yang relevan
dengan kebutuhannya profesinya, 5) mendorong terwujudnya pembelajaran
sepanjang hayat, dan 6) memanfaatkan berbagai media, metode, teknik dan
pengalaman belajar.

Pengembangan model berbasis prinsip-prinsip andragogi seperti telah
diuraikan di atas diintegrasikan dengan teknik penyampaian materi menggunakan
CMS Moodle. Keunggulan desain model pelatihan seperti ini jelas membedakan
dengan model sejenis yang belum dirancang berdasarkan prinsip andragogi dan
tidak diintegrasikan dengan CMS Moodle. Langkah-langkah pengembangan model pelatihan mengacu pada rumusan-masalah yang pertama, yaitu tentang bagaimana langkah-langkah pengembangan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle. Langkah-langkah pengembangan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle adalah: (1) melakukan analisa kinerja dan analisa kebutuhan; (2) membuat
perencanaan model; (3) mengembangkan model pelatihan lengkap dengan media
dan instrumen evaluasi; (4) mengimplementasikan model pelatihan; dan (5)
melakukan evaluasi untuk mengetahui kompetensi peserta pelatihan.
Langkah melakukan analisis kinerja dan analisis kebutuhan ternyata efektif
memandu penulis dalam memetakan kompetensi dan menjabarkan menjadi
kompetensi-kompetensi khusus secara berurutan. Pada langkah perencanan model
meliputi: a) membuat tujuan pelatihan, b) materi atau bahan ajar pelatihan, 3)
menentukan metode pelatihan, d) menyiapkan media pelatihan dalam hal ini
adalah portal pelatihan, 4) menyiapkan alat evaluasi.

Langkah ke empat adalah pengembangan. Penulis mengembangkan alat
evaluasi dan media. Alat evaluasi ini terdiri dari dua jenis yaitu tugas terstruktur
dan uji kompetensi (quiz), maka dalam pengembangan tugas terstruktur penulis
menyusun dalam file pdf yang kemudian diupload di portal guru SD belajar.
Sedangkan untuk uji kompetensi berbentuk pilihan ganda dimana penulis
menuliskan soal tersebut pada notepad yang kemudian diupload pada portal.
Sedangkan pengembangan media ini meliputi, tampilan media, memilih fitur-fitur
yang diperlukan misalnya mengupload materi per unit, mengupload tugas
terstruktur atau lembar kerja, mengupload uji kompetensi, menyiapkan forum diskusi dan chatting. Setelah pengembangan media selesai maka silabus, materi
pelatihan dan alat evaluasi diupload kedalam media moodle.
Pada langkah mengimplementasikan model pelatihan, berhasil dilakukan
uji coba lapangan yang melibatkan 7 orang guru SD di UPTD Kecamatan
Wonosegoro. Implementasi berjalan lancar, dapat dipahami dengan baik oleh
peserta pelatihan, trainer (penulis sendiri) berhasil memotivasi peserta untuk
menyelesaikan pelatihan secara mandiri.

Pada langkah evaluasi untuk melihat kefektifan model maupun untuk
melihat kualitas pelatihan secara umum, berhasil mendapatkan data-data berikut:
1) hasil pengukuran kompetensi guru sebelum dan sesudah pelatihan, produk PTK
yang baik, dan balikan tentang keterterimaan model.
Keefektifan dalam setiap langkah pengembangan modul ini sejalan dengan
pandangan Branch (2009: 1); Molenda (2008: 108) dan Atwi Suparman (2012:
108) mengatakan bahwa model ADDIE memiliki kelebihan yaitu model ADDIE
berorientasi pada sistem, sudah familier di kalangan para praktisi pendidikan,
langkah-langkahnya lebih sederhana karena prosedur kerjanya sistematik, yakni
pada setiap langkah selalu mengacu pada langkah sebelumnya yang sudah
diperbaiki, sehingga diperoleh produk yang efektif.
Berkaitan dengan bagaimana tingkat validitas model pelatihan berbasis
andragogi berbantuan CMS Moodle ini, ahli model pelatihan menggunakan model
pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle, validator memberi skor
sebesar 89% untuk aspek peta program dan 86% untuk skenario pelatihan.
Berdasarkan kategori dan kriteria uji ahli, data angka persentase ini menunjukkan
bahwa hasil penilaian peta program berada pada kategori sangat tinggi dan hasil
penilaian skenario pelatihan berada pada kategori sangat tinggi. Artinya bahwa
peta program dan skenario pelatihan online sebagai produk pengembangan model
pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle ini kualitasnya berada pada
kategori sangat tinggi.

Berkaitan dengan penilaian terhadap model pelatihan, ahli materi pelatihan
dan ahli media memberikan penilaian berikut. Ahli desain model pelatihan, ratarata persentase skor penilaian oleh ahli terhadap aspek peta program dan skenario
pelatihan online oleh ahli menunjukkan bahwa rata-rata persentase sebesar 89%
untuk aspek peta program dan 86% untuk skenario pelatihan. Artinya bahwa peta program dan skenario pelatihan online sebagai produk pengembangan modul
pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle ini kualitasnya berada pada
kategori sangat tinggi.

Berkaitan dengan ahli materi pelatihan PTK memberikan skor sebesar
72%. Berdasarkan kategori dan uji ahli, data angka persentase ini menunjukkan
bahwa hasil penilaian ini berada pada kategori tinggi. Artinya bahwa materi
pelatihan sebagai produk pengembangan model pelatihan berbasis andragogi
berbantuan CMS Moodle ini kualitasnya berada pada kategori sangat tinggi.
Hasil validasi model oleh ahli media menunjukkan bahwa rata-rata
persentase sebesar 78% untuk aspek tampilan, 100% untuk aspek akses, 73%,
untuk aspek interaksi, 66%, untuk aspek desain materi pelatihan, dan 80% untuk
aspek kontrol. Berpijak pada kategori dan kriteria uji ahli media, maka empat
aspek yaitu; aspek kontrol (80%), aspek tampilan (78%), aspek interaksi (73%)
dan aspek desain materi pelatihan (66%) berada pada kategori tinggi. Berkaitan
dengan satu aspek yang lain, yaitu aspek akses (100%), berada pada kategori
sangat tinggi. Artinya bahwa secara keseluruhan kualitas desain media dalam
pelatihan menggunakan model ini berada pada kategori tinggi untuk semua aspek.
Berdasarkan uraian lengkap tentang temuan hasil uji validasi para ahli
model pelatihan, ahli model, dan ahli media dapat disimpulkan bahwa secara
keseluruhan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle ini
kualitasnya sudah baik dan tingkat validitasnya tinggi dan layak
Hasil ujicoba pelatihan menggunakan model berbasis andragogi
berbantuan CMS Moodle ini menghasilkan data rata-rata pretest mencapai 65, dan
pada postest mencapai 81. Dilihat dari signifikansi perlakukan terlihat dari uji
Mann Whitney U Test, dimana U hitung sebesar 6,00; p = 0,017 (0,017 < α=
0,050), artinya bahwa temuan data ini menunjukkan tingkat kompetensi
pedagogik guru setelah mengikuti pelatihan lebih tinggi secara signifikan
dibandingkan sebelum mengikuti pelatihan.

Selanjutnya, kompetensi tugas mandiri berupa PTK menunjukkan ada 6
peserta pelatihan (85,7%) pada kategori baik. Artinya PTK dapat dilanjutkan
untuk perbaikan dengan revisi ringan. Sedangkan 1 peserta pelatihan (14,3%)
pada kategori rendah. Artinya PTK dapat dilanjutkan untuk penelitian dengan
revisi berat.

Temuan keefektifan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS
Moodle memberikan dampak lebih tinggi terhadap kompetensi hasil pelatihan
peserta pelatihan yang merupakan sinergi dari integrasi model pelatihan – konten
PTK – Andragogi dan media pelatihan berupa portal e-learning. Keefektifan
model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle ini ditandai adanya
perubahan dari tradisi pelatihan tatap muka menjadi berbasis teknologi internet.
Kontribusi komponen andragogi dalam sinergi menjadikan model
pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle ini efektif dalam
meningkatkan kompetensi hasil pelatihan peserta pelatihan. Hal ini seperti temuan
dari Laurie C. Blondy (2007) yang berjudul Evaluation and Application of
Andragogical Assumptions to the Adult Online Learning Environment,
menemukan bahwa penerapan andragogi dapat menciptakan pembelajaran yang
berpusat pada pendekatan pendidikan online.

Selanjutnya Ayu Nurchinta, Danang Tandyonomanu (2015) yang
mennemukan bahwa penerapan model pembelajaran andragogi berbeda dengan
pembelajaran konvensional, kompetensi hasil diklat lebih tinggi dibandingkan
dengan pembelajaran konvensional. Endah Yuli Astanti (2016) menyebutkan
bahwa pengembangan model andragogi dapat meningkatkan partisipasi Jemaah
sebelum dan sesudah menggunakan model andragogi.

Kontribusi teknologi penyampaian materi pelatihan menggunakan CMS
Moodle terhadap efektifnya model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS
Moodle dilihat dari potensi yang dimiliki Moodle ini. Pemilihan harus didasarkan
pada kebutuhan peserta pelatihan, strategi pelatihan dan keterbatasan
pelaksanaannya. Efektifnya sinergi model pelatihan – Moodle ini sejalan dengan
temuan penelitian Ramayah (2010) tentang quantitative survey tentang the role of
voluntariness in distance education students‟ usage of a course website. Temuan
yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah: 1) bahwa gambaran (persepsi)
kemudahan penggunaan sistem perkuliahan berdampak signifikan terhadap
penggunaan perkuliahan berbasis website (β =0.488, p< 0.01). 2) bahwa gambaran
tersebut berdampak signifikan terhadap penggunaaan perkuliahan berbasis website
(β = 0.356, p< 0.01). Berarti bahwa hipotesis diterima.

Sejalan dengan temuan penelitian Ramayah, Chao, Hwu & Chang (2011)
melakukan penelitian eksperimen dengan sampel sebesar 128 mahasiswa, terdiri dari 3 kelompok/team. Kelompok A (n=40 mahasiswa), B (n=46 mahasiswa) dan
C (n=42 mahasiswa). Temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah: 1)
Secara umum Kelompok A dalam mengikuti ujian akhir pembelajaran lebih
sukses dibandingkan Kelompok B dan C. 2) Pengujian dengan menggunakan
teknik ANCOVA pada taraf signifikansi α=0.05, diperoleh hasil F = 21.85,p ≤
0.05. Hal ini dapat dijelaskan bahwa efektivtas pembelajaran Kelompok A lebih
tinggi secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok C, 3) Mahasiswa
Kelompok A lebih efektif dalam belajar. Penyimpulan utama ini berdasarkan
temuan bahwa mereka memiliki kesempatan lebih untuk sharing pengetahuan dan
interaksi belajar.

Burhanuddin (2011) melakukan penelitian tentang pengembangan elearning dengan moodle sebagai alternatif media pembelajaran berbasis internet
menemukan hasil: 1) e-learning sekolah dengan CMS Moodle yang telah
dikembangkan dapat dikatakan sudah baik, 2) Hasilnya diolah secara deskriptif
persentase. Hasil checklist yang dilihat dari 2 aspek yaitu desain pembelajaran dan
komunikasi visual, menunjukan e-learning ini termasuk dalam kategori baik
dengan persentase dalam desain pembelajaran, guru 89% dan siswa 82,13%.
sedangkan dalam komunikasi visual, guru 87,35% dan siswa 80,3%, 3) Guru
harus proaktif untuk menggunakan media ini secara keseluruhan.

Penelitian tentang andragogi telah banyak dilakukan seperti telah
dikemukakan pada review setiap jurnal, Laurie C. Blondy (2007), Ayu Nurchinta
dan Danang Tandyonomanu (2015) dan Endah Yuli Astanti (2016). Demikian
juga penelitian tentang pembelajaran berbasis e-learning juga telah banyak
dilakukan, yaitu penelitian yang dilakukan Ramayah (2010); Burhanuddin (2011),
Chao, Lin Hwu & Cheng Chang (2011). Namun penelitian-penelitian dengan
variabel andragogi untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam jurnal
yang telah direview oleh penulis lebih dominan sebagai penelitian korelasional
dan eksperimental saja. Kalaupun ada penelitian model andragogi itupun model
konseptual yang hakikatnya berbeda dengan model prosedural yang akan
dikembangkan dalam pengembangan model pelatihan berbasis andragogi
berbantuan CMS Moodle. Demikian juga belum dilakukan penelitian yang secara
spesifik mengembangkan model pelatihan berbasis andragogi untuk
mengembangkan kompetensi pedagogik guru.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukan sebelumnya, maka
dapat disimpulkan dan diajukan saran-saran berikut:
1. Pengembangan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle
dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (a) analisis; (b)
perencanaan; (c) pengembangan; (d) implementasi; (e) evaluasi.
2. Tingkat validitas model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle
berada pada kategori baik (72%). 3. Hasil pelatihan menggunakan model pelatihan berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle lebih tinggi dari sebelum menggunakan model pelatihan.

Simpulan ini didasarkan pada temuan μ- kompetensi hasil pelatihan peserta
pelatihan mencapai 65 (pretest) dan 81 (postest). Dilihat dari signifikansi
perlakukan terlihat dari uji Mann Whitney U Test, dimana U hitung pada varian
model pelatihan sebesar U sebesar 6,00; p = 0,017 (0,017 < α= 0,050).

DAFTAR PUSTAKA

Atwi Suparman. 2012. Desain Instruksional Modern. Jakarta: Erlangga.

Ayu Nurchinta dan Danang Tandyonomanu. 2015. Penerapan Model
Pembelajaran Andragogi untuk Meningkatkan Hasil Mata Diklat Pemetaan
Keluarga Sejahtera di Bidang Pelatihan Dan Pengembangan BKKBN
Provinsi Jawa Timur. ejournal.unesa.ac.id 12 (2015): 1 – 10.

Branch Robert maribe. 2009. Instructional Design: The ADDIE Approach. New
York : Springer Science & Business Media, LLC.

Burhanuddin. 2011. Pengembangan e-Learning dengan Moodle sebagai alternatif
media pembelajaran berbasis internet di SMP Negeri 5 Semarang.
Semarang: Universitas Negeri Semarang. Retrieved from http://
lib.unnes.ac.id/ 11225

Chao, C.,Y, Hwu, S., L. & Chang, C., C. 2011. Supporting Interaction Among
Participants Of Online Learning Using The Knowledge Sharing Concept.
TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology, 10 (4),
311-319.

Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. 2008.
Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Depdiknas: Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005,
Tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Depdiknas.

Endah Yuli Astanti. 2016. Pengembangan Model Andragogi untuk Meningkatkan
Partisipasi Jemaah Majelis taklim Nurul Huda Putri di Dusun Semoya
Tegaltirto Berbah Sleman. Thesis: Yogyakarta: Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga.

Haris Mudjiman. (2011). Manajemen Pelatihan berbasis Belajar
Mandiri.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kemendiknas. 2010. Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru Buku 4 –
Pedoman Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dan
angka Kreditnya. Jakarta: Kemendiknas –PMPTK.

Laurie C. Blondy. 2007. Evaluation and Application of Andragogical
Assumptions to the Adult Online Learning Environment. Journal of
Interactive Online Learning http://www.ncolr.org/jiol 6 (2) 116-130.

Limongelli, C. F. Sciarrone, G. Vaste. (2011). Personalized e-learning in Moodle:
the Moodle_Learning Management System, Journal of e-Learning and
Knowledge Society, 7 (1), 49-58.

Marzuki, Saleh. 2010. Pendidikan Non Formal (Dimensi dalam Keaksaraan
Fungsional, Pelatihan, dan Andragogi) Bandung: Universitas Negeri
Malang dan Rosda.

Mondy, R. Wayne. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

Noe, Raymond. A. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia Mencapai
Keunggulan Bersaing.NY: McGraw-Hill.

Ramayah, T. (2010). The Role Of Voluntariness In Distance Education Students‟
Usage Of A Course Website. TOJET: The Turkish online journal of
educational technology, 9 (3), 96-105.

Sudjana Djudju. 2007. Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Bandung: Tim Pengembang
Ilmu Pendidikan FIP-UPI.

Sukmadinata. 2015. Metode penelitian pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Sunhaji. 2013. pendidikan Orang Dewasa. Jurnal Kependidikan Vol. 1 (1).
Suprijanto, 2007. Pendidikan Orang Dewasa Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta:Bumi Aksara.

Surjono. 2013. Membangun Course e-learning berbasis Moodle. Yogyakarta:
UNY Press.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s