PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS KONTEKSTUAL DI KELAS V SEKOLAH DASAR

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS
KONTEKSTUAL DI KELAS V SEKOLAH DASAR
Yuda Martin Anggriana, M.Pd.

ABSTRAK
Kurikulum 2013 menuntut guru untuk dapat mengembangkan bahan ajar dalam
setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini berarti pembelajar perlu berinteraksi dengan
sumber-sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan penelitian
dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar matematika berbasis
kontekstual yang valid, efektif, dan praktis untuk siswa kelas V Sekolah Dasar
dengan menggunakan four D model (4-D) yang dimodifikasi menjadi three D
model (3- D). Penelitian ini menggunakan rancangan analisis deskriptif , yang
terdiri dari data deskriptif kualitatif dan data dekriptif kuantitatif. Data yang
didapatkan dikonversikan berdasarkan kriteria kevalidan, kepraktisan, dan
keefektifan pada bahan ajar yang dikembangkan. Hasil penelitian menunjukan
bahan ajar matematika berbasis kontekstual valid, praktis dan efektif. Bahan ajar
yang dikembangkan memiliki kelebihan sehingga dapat dikatakan praktis dan
efektif. Bahan ajar yang dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada pembelajaran matematika materi jarak, waktu, dan kecepatan yang
didasarkan pada keefektifan bahan ajar.
Kata kunci: pengembangan, bahan ajar matematika, kontekstual

 

PENDAHULUAN

 

Mengingat pentingnya proses pembelajaran matematika, seyogianya
pembelajaran matematika di sekolah dasar diajarkan sesuai dengan kurikulum
yang berlaku. Perubahan dilakukan karena dianggap belum sesuainya kurikulum
yang berlaku dengan tujuan yang diharapkan. Permadi (2012) mengemukakan
bahwa ―perubahan kurikulum menjadi tantangan sendiri bagi guru, dikarenakan
dengan berubahnya kurikulum, maka akan berubah pula sistem pembelajaran
yang terdapat di dalamnya‖. Salah satu perubahan sistem pembelajaran yang
dimaksud adalah terkait konten materi pembelajaran yang berhubungan dengan
bahan ajar yang digunakan, khususnya penggunaan bahan ajar pada pelaksanaan
Kurikulum 2013.

 

Pemerintah mengemukakan bahwa penyederhanaan konten dalam bahan
ajar perlu untuk dilakukan. Kemendikbud (dalam Abidin, 2014:34) menyatakan
―melalui disklaimer terkait perubahan konten materi, semua kalangan khususnya
praktisi dapat mengembangkan bahan ajar melalui pengembangan jenis dan bentuk bahan ajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran‖. Prastowo
(2014:17) mengemukakan ―bahan ajar merupakan segala bahan baik berupa
informasi, alat, maupun teks yang disusun secara sistematis, dengan tujuan
perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran‖. Berdasarkan hal
tersebut, tenaga pendidik seyogianya mampu untuk mengembangkan bahan ajar
yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan guna membantu siswa dalam
menciptakan lingkungan belajar sehingga mempermudah pencapaian kompetensi
yang dikuasai oleh siswa.

 

Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku ajar siswa di kelas V sekolah
dasar. Macintyre, dkk (2010) berpendapat bahwa “for learners, textbooks are a
key element in both mathematical teaching and learning”
. Buku ajar merupakan
elemen kunci kedua dalam pengajaran dan pembelajaran matematika. Buku ajar
yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah buku yang didasarkan pada salah
satu pendekatan.

 

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan bahan
ajar matematika adalah pendekatan kontekstual. Lam (2006) mengemukakan
bahwa “contextual approach can reinforce students‟ prior mathematical
knowledge and enhance students‟ learning of new concepts in the process of
solving some „real‟ problem”
. Pendekatan kontekstual dapat dikembangkan
menjadi salah satu model dalam pengembangan bahan ajar matematika, karena
dalam penyusunannya lebih menekankan pada keterkaitan antara materi
pembelajaran dengan kehidupan lingkungan sekitar siswa.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Johnson (2002:35)
“contextual teaching and learning enables students to connect the content of
academic subject with the immediate context of their daily lives to dicsover
meaning”
. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa untuk
menghubungkan isi mata pelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari dalam
menemukan makna dan pengetahuan yang dimiliki. Komalasari (2012)
mengemukakan juga bahwa ―pembelajaran kontekstual dikonseptualisasikan
sebagai pembelajaran yang terkait dengan materi pelajaran dalam kehidupan nyata
berdasarkan pengalaman dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari siswa‖.

 

Melalui pembelajaran kontekstual, diharapkan siswa menemukan hubungan penuh makna antara ide-ide abstrak dengan penerapan praktis di dalam konteks dunia
nyata. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran memiliki tujuh kompenen
yang didalamnya memiliki keterkaitan antara komponen yang satu dengan
komponen yang lainnya. Corebima (dalam Susanto, 2014:107-116), Hosnan
(2014:270-273), dan Trianto (2007:106) mengemukakan pendapat yang sama
bahwa ―tujuh kompenen pendekatan kontekstual diantaranya konstruktivisme,
menemukan, bertanya, komunitas belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian
autentik‖. Beberapa komponen yang terdapat dalam pendekatan kontekstual
dituangkan dalam bahan ajar yang dikembangkan dengan memperhatikan
karakteristik dan kebutuhan di lapangan serta dalam penyusunannya dengan
memperhatikan dan menerapkan langkah-langkah pendekatan saintifik.
Implementasi Kurikulum 2013 pada pendekatan saintifik dirancang sedemikian
rupa agar tahapan-tahapan mengamati, menanya, menggali informasi,
mengasosiasikan dan mengomunikasikan dapat diterapkan dalam pelaksanaan
kegiatan pembelajaran. Begitu pula terhadap pengembangan bahan ajar yang akan
dikembangkan.

 

Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan produk
pengembangan berupa buku ajar yang valid, praktis dan efektif sehingga bahan
ajar yang dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada
pembelajaran matematika materi jarak, waktu, dan kecepatan.

 

 

METODE
Metode pengembangan bahan ajar matematika berbasis kontekstual ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif dan data kuantitatif. Bogdan dan Taylor
(dalam Moleong, 2012:4) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan perilaku
yang dapat diamati. Jenis data kualitatif diperoleh dari beberapa masukan,
tanggapan dan saran dari validator, praktisi, observer, dan siswa.
Jenis data kuantitatif diperoleh dari skor penilaian yang diberikan oleh
validator, praktisi, observer, dan siswa melalui kegiatan validasi dan uji coba
lapangan. Data yang diperoleh dideskripsikan secara rinci untuk mengetahui
tingkat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan bahan ajar yang dikembangkan.

 

Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
pengembangan 4-D (Four-D Model). Model pengembangan ini terdiri dari empat
tahapan, yakni pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan
(develop), dan penyebaran (disseminate). Thiagarajan, Semmel dan Semmel
(1974:5) mengemukakan:

The systems-approach model around which this sourcebook is
organized is based upon these earlier models and upon actual field
experience in designing, developing, evaluating, and disseminating
teacher-training materials in special education.

 

Bahan ajar di validasi untuk mengetahui nilai kevalidan, kepraktisan, dan
keefektifannya. Kevalidan bahan ajar dilakukan dengan melakukan validasi
kepada ahli materi, ahli konstruk, dan ahli desain pembelajaran. Kepraktisan
bahan ajar dilakukan melalui observasi pada aktivitas guru dan aktivitas siswa
serta respon guru dalam menggunakan bahan ajar matematika berbasis
kontekstual. Keefektifan dilakukan melalui serangkaian kegiatan tes di akhir
pembelajaran dan respon siswa setelah menggunakan bahan ajar matematika
berbasis kontekstual.

 

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Cilampeni 03
Kabupaten Bandung sebanyak 32 siswa, yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan
21 siswa perempuan. Penelitian dilakukan selama tiga kali pertemuan dengan
pembahasan materi yang berbeda-beda sesuai materi yang dikembangkan yaitu
jarak, waktu, dan kecepatan.

 

PEMBAHASAN
Bahan ajar yang telah dikembangkan sesuai dengan rancangan awal pada
materi jarak, waktu, dan kecepatan di validasi oleh beberapa ahli. Beberapa ahli
tersebut diantaranya ahli materi, ahli kontsruk dan ahli desain pembelajaran.
Tujuan divalidasinya bahan ajar adalah untuk menentukan dan mengetahui data
kriteria kevalidan bahan ajar yang akan di uji cobakan. Supardi (2014:129)
menjelaskan bahwa data yang baik adalah data yang diambil dari sumber yang
tepat dan akurat. Gambar 1 berikut merupakan data hasil validasi terhadap bahan
ajar yang dikembangkan.

 

Gambar 1.

Hasil Validasi Bahan Ajar

Sajian gambar 1 di atas, menunjukan bahwa perolehan hasil validasi dari
ahli materi mencapai 3,13, ahli konstruk 3,10, dan ahli desain pembelajaran 3,00.
Rata-rata kevalidan yang diperoleh mencapai 3,02 pada bahan ajar yang
dikembangkan. Data yang diperoleh dikonversikan terhadap kriteria kevalidan
menurut Parta (2009) dan mendapatkan hasil kriteria valid dan revisi sesuai
kebutuhan. Artinya bahan ajar yang dikembangkan bisa digunakan dan dapat di
uji cobakan untuk mengetahui nilai kepraktisan dan keefektifannya.
Selain diperoleh data hasil validasi, validator juga memberikan tanggapan
dan saran untuk perbaikan pada bahan ajar yang dikembangkan. Salah satu
tanggapan dan saran yang diberikan adalah “masih adanya kalimat yang belum
lengkap sehingga dapat membingungkan siswa”.
Tanggapan dan saran yang
diberikan dari validator dijadikan bahan pertimbangan dalam merevisi produk
bahan ajar yang dikembangkan. Gambar 2 berikut merupakan tanggapan dan
saran serta hasil revisi produk bahan ajar yang dikembangkan.
(Sebelum Revisi)
3.13 3.1

3

3.02
4 3 2 1 0
ahli materi ahli konstruk ahli desain rata-rata
(Sesudah Revisi)
Gambar 2. Tanggapan dan Saran serta Hasil Revisi Produk Bahan Ajar
Selain hasil validasi pada buku ajar, gambar 3 berikut menunjukan
kevalidan pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan pada
pembelajaran matematika.

Gambar 3. Hasil Validasi RPP

Sajian gambar 3 di atas, menunjukan secara rinci bahwa aspek format
memperoleh skor 4, aspek isi memperoleh skor 3, aspek bahasa dan tulisan
memperoleh skor 3,5, aspek alat dan sumber belajar memperoleh skor 3, dan
aspek penilaian memperoleh skor 3. Perolehan nilai validasi rencana pelaksanaan
pembelajaran dirata-rata sehingga mencapai skor 3,20. Nilai ini berada pada nilai
≥ 3, sehingga berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka rencana
pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan setalah dikonversikan memenuhi
kriteria valid.

 

Selain diperoleh data hasil validasi, validator juga memberikan tanggapan
dan saran untuk perbaikan pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang
dikembangkan. Salah satu tanggapan dan saran yang diberikan adalah “Berikan
contoh pertanyaan yang disampaikan oleh guru pada kegiatan awal”.
Tanggapan
dan saran yang diberikan dari validator dijadikan bahan pertimbangan dalam
merevisi produk rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan.
Bahan ajar yang dinyatakan valid di uji cobakan untuk mengetahui nilai
kepraktisan dan keefektifan bahan ajar. Kepraktisan bahan ajar didasarkan pada
keterterapan buku ajar melalui observasi terhadap aktivitas guru dan aktivitas
4
3 3.5 3 3 3.2
5 4 3 2 1 0
Format Isi Bahasa dan
Tulisan
Alat dan
Sumber
Belajar Penilaian Rata-rata siswa serta respon guru setelah menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.
Arifin (2014:231) menjelaskan observasi adalah teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan jalan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis,
objektif dan rasional. Validasi pengguna terfokus pada keterterapan buku ajar,
yakni dapat tidaknya buku ajar itu digunakan (Akbar, 2013:42). Tabel 1 berikut
hasil observasi terhadap aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam menggunakan
bahan ajar.
Tabel 1. Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Aktivitas Siswa

Kegiatan Pembelajaran Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Pembelajaran 1 75,0% 75,0%
Pembelajaran 2 80,0% 80,8%
Pembelajaran 3 87,5% 88,5%
Jumlah 242,5% 244,3%
Rata-Rata 80,8% 81,4%

Berdasarkan sajian tabel 1 di atas, menunjukan bahwa hasil observasi
aktivitas guru pada pembelajaran satu mencapai 75,%, pembelajaran dua
mencapai 80,8%, dan pada pembelajaran tiga mencapai 87,5%. Sehingga, ratarata aktivitas guru mencapai skor 80,8%. Hasil observasi aktivitas siswa pada
pembelajaran satu mencapai 75,0%, pembelajaran dua mencapai 80,8%, dan
pembelajaran tiga mencapai 88,5%. Sehingga, rata-rata aktivitas siswa dalam
menggunakan bahan ajar yang dikembangkan mencapai skor 81,4%.
Data yang diperoleh dikonversikan terhadap kriteria kepraktisan. Akbar
dan Sriwiyana (2013) menyatakan bahan ajar dikatakan praktis jika mendapatkan
skor kriteria dengan kategori ―baik‖ dengan pencapaian skor kriteria 80%-100%.
Dari data yang diperoleh menunjukan bahan ajar yang dikembangkan berada
dalam kategori baik, artinya bahan ajar yang dikembangkan memiliki tingkat
kepraktisan yang baik.

 

Selain melalui aktivitas guru dan aktivitas siswa, kepraktisan bahan ajar
yang dikembangan dilihat pula berdasarkan respon guru setelah menggunakan
bahan ajar yang dikembangkan. Akker (1999:10) menjelaskan kepraktisan
mengacu pada tingkat bahwa pengguna mempertimbangkan intervensi dapat
digunakan dan disukai dalam kondisi normal. Respon guru dalam penggunaan
bahan ajar mencapai skor 3,5. Hasil data yang didapatkan dikonversikan dengan
kriteria kepraktisan respon guru pada bahan ajar. Parta (2009) menjelaskan bahwa
bahan ajar yang dikatakan efektif jika berada pada nilai St ≥3 dan menunjukan kategori positif. Berdasarkan data yang diperoleh, respon guru terhadap bahan
ajar yang dikembangkan berada dalam kategori positif.
Terdapat beberapa kelebihan pada bahan ajar yang dikembangkan,
sehingga bahan ajar dikategorikan praktis. Kelebihan tersebut antara lain sebagai
berikut.

  1. Bahan ajar yang dicetak dalam bentuk buku disesuaikan berdasarkan ukuran
    yang mudah digunakan oleh guru dan siswa.
    Ukuran buku yang disesuaikan berdasarkan standar ISO (International
    Organization For Standardization)
    . Pedoman Standardisasi Nasional (2007:4)
    menjelaskan bahwa ―keseragaman struktur, gaya penulisan, dan terminologi
    penulisan harus dijaga‖. Berdasarkan standarisasi tersebut, kertas yang digunakan
    adalah kertas A4 (21 x 29,7) dan bentuk huruf yang menarik yaitu font Century
    Gothic
    dengan ukuran 12 dan spasi 1,5. Hal ini membantu guru dan siswa dalam
    membawa dan menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.
  2. Kemudahan guru dan siswa dalam menemukan materi pembelajaran
    berdasarkan halaman yang terdapat dalam buku ajar berbantuan kertas
    pembatas berwarna.
    Kertas pembatas berwarna yang ditempelkan pada sela-sela batas antar
    kegiatan pembelajaran membantu guru dan siswa dalam menemukan materi yang
    disajikan dalam bahan ajar. Selain itu, masing-masing halaman diberikan kertas
    pembatas pada ujung luar halaman untuk mempermudah dalam menemukan
    materi pembelajaran.
  3. Respon guru yang positif terhadap bahan ajar yang dikembangkan.
    Bahan ajar yang dikembangkan sudah sesuai dengan pemaparan penerapan
    pembelajaran saintifik yang terdapat dalam kurikulum 2013. Kegiatan
    pembelajaran yang dipadukan dengan materi pembelajaran berdasarkan kondisi di
    lingkungan sekitar siswa memudahkan siswa dalam memahami materi
    pembelajaran dalam setiap kegiatannya. Sundayana (2013:24) berpendapat bahwa
    pembelajaran matematika di kelas hendaknya ditekankan pada keterkaitan antara
    konsep matematika dengan pengalaman anak sehari-hari. Berdasarkan hal
    tersebut, akan berdampak pada respon guru dan siswa yang positif terhadap bahan
    ajar yang dikembangkan.
  4. Aktivitas guru dan siswa yang dikembangkan dalam bahan ajar cukup baik.

 

Melalui langkah-langkah pembelajaran yang dipadukan antara komponen
pendekatan kontekstual dengan pembelajaran saintifik, mampu meningkatkan
aktivitas guru dan siswa selama menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.
Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi pada aktivitas guru dan aktivitas siswa
yang tinggi terhadap penggunaan bahan ajar selama proses pembelajaran
berlangsung. Djamarah (2008:38) mengemukakan ― aktivitas artinya kegiatan atau
keaktifan‖. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi pada aktivitas guru dan
aktivitas siswa yang tinggi terhadap penggunaan bahan ajar selama proses
pembelajaran berlangsung.

 

Berikut percakapan antara guru dan siswa serta catatan lapangan hasil
observasi dalam menggunakan bahan ajar.

Guru : ―Apakah Ananda telah siap untuk belajar?‖

Siswa : ―Siap pak . . .!‖ (siswa antusias untuk menggunakan bahan ajar)
Guru : ―Pahami setiap wacana dalam kegiatan pembelajaran, tanyakan apabila
ada yang tidak dipahami dengan berdiskusi bersama teman
kelompokmu!‖.
Tabel 2. Catatan Lapangan Hasil Observasi

Catatan Lapangan
· Kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas siswa diharapkan agar bisa lebih
diperhatikan lagi, pembimbingan siswa atau kelompok sebaiknya dilakukan secara
menyeluruh.
· Dalam kegiatan pembelajaran, siswa sudah mulai memahami kegiatan/petunjuk yang
terdapat dalam buku.

Keefektifan bahan ajar pada penelitian ini didasarkan pada hasil belajar
siswa dan respon siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Akbar (2013:42)
menjelaskan untuk menggambarkan keefektifan (tingkat ketuntasan) dilakukan
pengujian terhadap siswa atas penguasaan isi buku ajar, misalnya dengan tes
maupun non-tes. Hasil belajar siswa didasarkan pada pencapaian kriteria
ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu ≥ 70. Tabel 3 berikut
menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah
menggunakan bahan ajar.

 

Tabel 3 Perbandingan Hasil Tes

Tuntas (%) Tidak Tuntas (%)
Hasil Sebelum 43,7% 56,2%
Hasil Sesudah 87,5% 12,5%.

Hasil belajar siswa yang mencapai kriteria ketuntasan sebelum
menggunakan bahan ajar yang dikembangkan mencapai 43,7%, sedangkan yang
tidak mencapai kriteria ketuntasan mencapai 56,2%. Sedangkan hasil belajar
siswa setelah menggunakan bahan ajar yang mencapai kriteria ketuntasan
mencapai 87,5% dan siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan mencapai
12,5%. Dalam hal ini, adanya peningkatan hasil belajar siswa antara sebelum dan
sesudah dilakukannya tes melalui bahan ajar yang dikembangkan. Berdasarkan
hal tersebut, maka bahan ajar yang dikembangkan dikategorikan efektif dan
berada dalam kategori tuntas.

Adapun respon siswa dalam penggunaan bahan ajar mencapai skor 3,3.
Hasil data yang didapatkan dikonversikan dengan kriteria kepraktisan respon
siswa pada bahan ajar. Parta (2009) menjelaskan bahwa bahan ajar yang dikatakan
efektif jika berada pada nilai St ≥3 dan menunjukan kategori positif. Berdasarkan
data yang diperoleh, respon siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan berada
dalam kategori positif.

  1. Terdapat beberapa indikator dalam bahan ajar yang dikembangkan
    dikategorikan efektif. Indikator tersebut antara lain sebagai berikut.
    Bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kontekstual
    Materi pembelajaran yang diterapkan pada bahan ajar yang dikembangkan
    didasarkan pada penerapan pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual
    merupakan suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi
    pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
    hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupannya (Komalasari,
    2013:6). Glynn (2004) mengemukakan “contextual teaching and learning (CTL)
    integrates inquiry, problem-and project based learning, cooperative learning, and
    authentic assessment”.
    Bahan ajar matematika berbasis kontekstual menyajikan
    masalah-masalah berdasarkan pembelajaran kooperatif, yang membantu siswa
    dalam memahami materi pembelajaran yang dikembangkan yaitu jarak, waktu,
    dan kecepatan.
  2. Langkah kegiatan pembelajaran di dalam bahan ajar menerapkan pemaparan
    penerapan pendekatan saintifik pada kurikulum 2013.
    Langkah pembelajaran saintifik yang diterapkan dalam bahan ajar mampu
    meningkatkan kompetensi siswa dalam setiap proses pembelajarannya. Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang dilakukan untuk
    memecahkan masalah melalui perencanaan, pengumpulan data, dan analisis untuk
    menghasilkan kesimpulan (Abidin, 2014:122). Siswa mengalami dan melakukan
    setiap langkah kegiatan yang diterapkan dalam bahan ajar yang dikembangkan.
    Hosnan (2014) menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran pada kurikulum
    2013 diarahkan untuk memberdayakan semua potensi yang dimiliki siswa, baik
    sikap, pengetahuan, maupun keterampilan. Bahan ajar yang dikembangkan
    mencakup semua kompetensi yang diarahkan pada kurikulum 2013 melalui
    pendekatan saintifik didalamnya.
  3. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam bahan ajar diarahkan berdasarkan
    kegiatan berkelompok. Bahan ajar yang dikembangkan menerapkan prinsip kerja sama dalam
    kegiatan kelompok. Kegiatan berkelompok dipertegas pula pada komponen
    pendekatan kontekstual. Dalam kegiatan kelompok, hasil belajar yang diperoleh
    dari bertukar pendapat antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang
    belum tahu. Berikut percakapan ketika siswa sedang melaksanakan kerjaSiswa 1 : ―Teman, bagaimana cara menentukan kecepatan Indah ini?‖.
    Siswa 2 : ―Ayo kita perhatikan dahulu jarak dan waktu yang ditempuh Indah!‖.
    Siswa 3 : ―kecepatan Indah didapatkan dari hasil jarak Indah dikali waktu yang
    ditempuh Indah‖.

Siswa 4 : ―Apakah ada cara yang lain?‖
Siswa 2 : ―Ada, coba kita gunakan garis bilangan!‖.
(Siswa berdiskusi bersama teman kelompoknya)
Siswa 5 : ―. . . ―

  1. Materi yang dikembangkan berdasarkan karakterisitik siswa sekolah dasar.
    Perkembangan siswa sekolah dasar masih berada dalam tahap operasional
    Gunawan (2013:85) menjelaskan persepsi pada anak usia sekolah dasar
    akan lebih peduli pada hal-hal yang sedang (konkrit) dan bukan masa depan yang
    belum meraka pahami bersifat abstrak. Materi yang dikembangkan pada bahan
    ajar disesuaikan dengan perkembangan siswa yang didasarkan pada kondisi
    lingkungan sekitar siswa (kontekstual).
  2. Pembelajaran yang dilakukan berdasarkan karakteristik pembelajaran
    Karakteristik pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu diajarkan
    secara relavan sesuai dengan materi yang diajarkannya. Soedjadi (2000:13)
    mengutarakan karakteristik pembelajaran matematika meliputi objek kajian
    abstrak, bertumpu pada kesepakatan, pola pikir deduktif, memiliki simbol yang
    kosong dari arti, serta konsisten dalam sistemanya. Pembelajaran matematika
    dilakukan secara bertahap dimulai dari konsep yang sederhana menuju konsep
    yang lebih sulit.

Pembelajaran matematika akan lebih bermakna jika guru memfasilitasi
siswa dalam menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Marsigit
(2009) berpendapat bahwa:

Matematika dipandang bukan untuk diajarkan oleh guru tetapi
untuk dipelajari oleh siswa. Siswa ditempatkan sebagai titik pusat
pembelajaran matematika. Guru bertugas menciptakan suasana,
menyediakan fasilitas dan lainnya dan peranan guru lebih bersifat
sebagai manajer dari pada pengajar.

Pembelajaran dilakukan dalam suasana dan fasilitas yang dimaksud salah satunya
adalah dengan mengembangkan bahan ajar matematika.

  1. Hasil tes belajar siswa yang mencapai kriteria ketuntasan.
    Setelah dilakukannya tes awal pada siswa, selanjutnya guru melakukan
    kegiatan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.
    Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar ini dimaksudkan untuk
    mengetahui hasil belajar siswa pada materi jarak, waktu, dan kecepatan. Arifin
    (2014:226) menjelaskan tes adalah teknik pengukuran yang didalamnya terdapat
    berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan
    atau dijawab oleh responden. Gambar 3 berikut jawaban siswa berdasarkan tes
    yang diberikan.

Gambar 3. Hasil Kerja Siswa

Hasil belajar siswa dijadikan sebagai alat ukur untuk menentukan kriteria
keefektifan dalam pengembangan bahan ajar. Poerwati dan Amri (2013:166)
menjelaskan bahwa untuk mengetahui tingkat pencapaian komptensi, guru dapat
melakukan penilaian tes dan non-tes. Hasil tes akhir belajar siswa menunjukan
adanya peningkatan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan
bahan ajar matematika berbasis kontekstual. Siswa yang mencapai kriteria
ketuntasan sebelum menggunakan bahan ajar mencapai 56,2%, sedangkan setelah
menggunakan bahan ajar mencapai 87,5% yang didasarkan pada KKM yang telah
ditetapkan. Artinya berdasarkan data tersebut adanya peningkatan hasil belajar
siswa setelah menggunakan bahan ajar yang dikembangkan. Berdasarkan hal
tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dikategorikan
efektif.

SIMPULAN
Bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran matematika
memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Bahan ajar yang dikembangkan
berupa buku ajar matematika berbasis kontekstual untuk siswa Kelas V SD Negeri
Cilampeni 03 Kabupaten Bandung pada materi jarak, waktu, dan kecepatan.
Hasil kevalidan buku ajar memperoleh skor 3,02, sedangkan kevalidan
rencana pelaksanaan pembelajaran mencapai skor 3,20. Berdasarkan data yang
diperoleh, maka bahan ajar yang dikembangkan valid.

Hasil kepraktisan bahan ajar didasarkan pada keterterapan bahan ajar
melalui hasil observasi aktivitas guru yang mencapai 80,8% dan aktivitas siswa
mencapai 81,4%, serta respon guru yang mencapai 3,5. Berdasarkan data yang
diperoleh, maka bahan ajar yang dikembangkan praktis dan berada dalam kriteria
yang positif.

Hasil keefektifan bahan ajar menunjukan adanya peningkatan hasil belajar
siswa berdasarkan nilai tes sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar yang
dikembangkan yang mencapai 87,5%, serta respon siswa yang mencapai 3,3.
Berdasarkan data yang diperoleh, maka bahan ajar yang dikembangkan efektif dan
berada dalam kriteria yang positif. Bahan ajar yang dikembangkan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika materi jarak,
waktu, dan kecepatan.

DAFTAR RUJUKAN

Abidin, Y. 2014. Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013.
Bandung: Refika Aditama.

Akbar, S. 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Akbar, S. & Sriwiyana. 2013. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran IPS.
Yogyakarta: Cipta Media.

Akker, J.V. 1999. Principles and Methods Of Development Research. Dodrecht:
Kluwer Acaddemic Publisher.

Arifin, Z. 2014. Penelitian Pendidikan (Metode dan Paradigma Baru). Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Badan Standarisasi Nasional. 2007. Pedoman Standardisasi Nasional. PSN 08.
(Online),(www.bakosurtanal.go.id/assets/download/sni/PSN/PSN%2007),
diakses tanggal 24 April 2016.

Djamarah, S.B,. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Gunawan, R. 2013. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep, dan Aplikasi. Bandung:Alfabeta.

Glynn, Shwan, M., & Winter, Linda, K. 2004. Contextual Teaching and Learning
of Science in Elementary Schools. Journal of Elementary Science
Education
. (Online), (http://files.eric.ed.gov/fulltext/ EJ798807.pdf),
diakses tanggal 20 September 2015.

Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran
Abad 21
. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Johnson, E. B. 2002. Contextual Teaching and Learning. Thousand Oaks:
Corwin.

Komalasari, K. 2012. The Effect of Contextual in Civic Education on Student
Character Development. Learning. Asia Pacific Journal of Educators and
Education, Vol. 27,87–103,
(Online), (www.ebscohost. com/79568968),
diakses tanggal 25 September 2015.

Komalasari, K. 2013. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasinya.
Bandung: Refika Aditama.

Lam,T.T,. 2006. Contextual approach in teaching mathematics: an example using
the sum of series of positive integers. International Journal of
Mathematical Education in Science and Technology
, v38 n2 p273-282,
(Online), (http://eric.ed.gov/?id=EJ764373), diakses tanggal 10 September
2015.

Macintyre, T., dan Hamilton, S. 2010. Mathematics learners and mathematics
textbooks: a question of identity? Whose curriculum? Whose
mathematics?. The Curriculum Journal (Online).
(http://eric.ed.gov=EJ877181), diakses tanggal 9 November 2015.

Marsigit. 2009. Prosiding Seminar Nasional Pembelajaran Matematika Sekolah:
“Pembudayaan Matematika di Sekolah Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa“. (Artikel di prosidingkan).Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.

Moleong, L.J,. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Parta, I.N. 2009. Pengembangan Model Pembelajaran Inquiry untuk
Memperhalus Pengetahuan Matematika Mahasiswa Calon Guru Melalui
Pengajuan Pertanyaan.
Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs
UNESA.

Permadi, Y. 2012. Substansi Perubahan Kurikulum Pendidikan Dasar. (Online),
(www.maharesidewanata.co.id). Diakses tanggal 25 Desember 2015.
Poerwati, L.E. & Amri, S. 2013. Panduan Memahami Kurikulum 2013 Sebuah Inovasi Struktur Kurikulum Penunjang Masa Depan. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Prastowo, A. 2014. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Jogjakarta:
DIVA Press.

Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti.
Supardi. 2014. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research): Beserta Sistematika Proposal dan Laporannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Susanto, A. 2014. Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.

Thiagarajan, S., Semmel, S.D., & Semmel, M.I. 1974. Instructional Development
for Training Teachers of Exceptional Children
. Indiana University.

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik. Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s