MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI MENGGUNAKAN BELIMBING MEGA SISWA KELAS V SDN JAMBON 1

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI
MENGGUNAKAN BELIMBING MEGA
SISWA KELAS V SDN JAMBON 1
Nurrohim

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi
dengan menggunakan belimbing mega Jambon 1. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan, kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V SD Negeri
Jambon 1 masih rendah. Upaya mengatasi masalah tersebut peneliti
menggunakan belimbing mega. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
yang dilakukan sebanyak dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan: (1) aktivitas
siswa 67,50% pada siklus I meningkat menjadi 73,75% pada siklus II, (2) nilai
rata- rata siswa 71,83 pada siklus I meningkat menjadi 75,83 pada siklus II, 3)
ketuntasan belajar siswa 50% pada siklus I meningkat menjadi 83,33% pada
siklus II. Dalam pembelajaran pada siklus II, media gambar yang digunakan
adalah kertas ukuran A3 dan gambarnya bewarna sehingga siswa lebih tertarik
dan antusias dalam menulis karangan. Guru memberikan penjelasan tentang
Ejaan Yang Disempurnakan secara bertahap dan jelas. Kesimpulan bahwa
belimbing mega dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan menulis karangan
narasi siswa.

Kata kunci: menulis karangan narasi, media belimbing mega.

 PENDAHULUAN
Latar Belakang

Menghadapi globalisasi dan arus informasi yang sedemikian masif,
bangsa Indonesia perlu memosisikan dirinya menjadi bangsa yang berbudaya baca
tulis (bahasa). Pengembangan berbahasa dapat dilakukan melalui pendidikan
forrmal maupun nonformal. Pengembangan berbahasa dalam pendidikan formal
dimulai dari pendidikan dasar. Pendidikan dasar sebagai pusat pendidikan bahasa
formal pertama dan utama bagi siswa serta memberikan landasan kebahasaan
yang kuat untuk tingkat pendidikan selanjutnya.

 

Keterampilan berbahasa yang baik dapat menjembatani siswa dalam
menimba berbagai ilmu pengetahuan, mengapresiasi seni, serta mengembangkan
diri secara berkelanjutan (Zulela, 2013:2). Selain itu, dengan keterampilan
berbahasa yang memadai seseorang dapat membentuk kepribadian warga negara
yang luhur sehingga dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan mentalitas
masyarakat di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sudah saatnya pengembangan pembelajaran kebahasaan di sekolah menjadi perhatian
utama untuk mencetak generasi muda yang cakap dalam keterampilan berbahasa.
Dalam Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas V
Sekolah Dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia, terdapat empat keterampilan
berbahasa dan bersastra. Keempat keterampilan tersebut adalah mendengarkan,
berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu Kompetensi Dasar mata pelajaran
Bahasa Indonesia Kelas V Sekolah Dasar yang harus dikuasai siswa adalah
menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata
dan penggunaan ejaan.

Pembelajaran menulis tidak hanya berorientasi pada hasil yang ingin
dicapai namun juga harus mencermati dan menekankan pendekatan proses
pembelajaran. Menurut Myers (Sutama, 2016:20), Pendekatan proses
mengasumsikan bahwa menulis terdiri atas beberapa tahap, yaitu tahap
perencanaan, tahap penuangan ide, dan tahap peninjauan yang bersifat rekursif.

 

Aktivitas pramenulis, berdiskusi di dalam kelompok menulis, dan mencoba-coba
menulis akan membantu kelancaran dalam menulis dan mengatasi kemacetan
dalam menulis yang diakibatkan oleh keterbatasan memori.
Pembelajaran bahasa yang ideal belum dapat terlaksana di seluruh sekolah
termasuk di SD Negeri Jambon 1 Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

 

Berdasarkan hasil pretes keterampilan menulis narasi siswa kelas V SD Negeri
Jambon 1 Gamping tahun pelajaran 2016/2017 didapatkan nilai rata-rata siswa
64,17 dan ketuntasan belajar siswa hanya 33,33 %. Dari hasil wawancara singkat
dengan siswa setelah pembelajaran menulis karangan narasi, sebagian besar siswa
masih mengalami kesulitan dalam mengutarakan ide pikirannya dalam bahasa
Indonesia karena bahasa ibu mereka adalah bahasa daerah sehingga kosakata
bahasa Indonesia yang mereka miliki terbatas. Hal ini berdampak pada kesulitan
siswa dalam membuat dan mengembangkan kerangka karangan menjadi paragraf.

 

Siswa juga masih sedikit kesulitan dalam menentukan diksi. Hampir seluruh siswa
juga merasa pelajaran bahasa Indonesia merupkan pelajaran yang paling sulit dan
kurang bersemanagat ketika mendapat tugas menulis karangan karena
pembelajaran bahasa Indonesia dikemas dengan kegiatan yang kurang menantang.
Hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan oleh guru terdapat
beberapa masalah yang menyebabkan kemampuan menulis karangan narasi siswa
masih rendah, diantaranya: 1) siswa merasa pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang sulit; 2) pembelajaran bahasa Indonesia yang kurang
menarik di kelas; 3) siswa kurang tertarik dengan kegiatan menulis karangan
narasi; 4) siswa belum memahami prosedur menulis karangan narasi yang benar;
5) keterampilan menulis karangan narasi siswa rendah.

 

Diperlukan suatu tindakan khusus untuk meningakatkan keterampilan
siswa dalam menulis narasi serta mengemas pembelajaran secara menarik dan
menantang. Maka peneliti mencoba menerapkan BELIMBING MEGA
(pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing berbantuan media gambar). Menurut
Susanto (2016:175), keterampilan inkuiri berdasarkan pada kemampuan siswa
dalam menemukan dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ilmiah
dan dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan untuk memperoleh jawaban
atas pertanyaannya.

 

Dengan pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing, siswa diharapkan
terbantu dalam mengutarakan gagasannya ke dalam bahasa tulis melalui stimulus
dan pancingan yang diberikan oleh guru. Stimulus dan pancingan yang diberikan
oleh guru kepada siswa mulai dari menyusun kerangka karangan,
mengembangkan kerangka karangan menjadi paragraf, dan merangkai paragraf
dari awal sampai akhir agar menjadi rangkaian cerita yang padu. Untuk
meningkatkan stimulus siswa dalam mengarang cerita, pembelajaran
menggunakan media gambar. Arsyad (2005:113), menyatakan tujuan utama
penampilan berbagai jenis gambar adalah untuk memvisualisasikan konsep yang
ingin disampaikan kepada siswa. Media gambar digunakan untuk meningkatkan
memori siswa terhadap pengalaman yang pernah dialami dan menuangkannya ke
dalam tulisan narasi.

 

Rumusan masalah dalam dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
bagaimanakah meningkatkan keterampilan menulis narasi menggunakan
pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing berbantuan media gambar pada siswa
kelas V semester I SD Negeri Jambon 1 tahun pelajaran 2016/2017? Sesuai
dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang akan dicapai melalui
penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi
menggunakan pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing berbantuan media gambar
pada siswa kelas V semester I SD Negeri Jambon 1 tahun pelajaran 2016/2017.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang menggunakan
model Stephen Kemmis dan Robin McTaggart. Penelitian dilakukan dalam dua
siklus, setiap siklus terdiri atas empat komponen yaitu perencanan, tindakan,
oservasi, dan refleksi. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri
Jambon 1 Gamping Semester I tahun pelajaran 2016/2017 dengan jumlah siswa 6
orang siswa yang terdiri dari 3 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan. Objek
penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan media
gambar.

 

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik tes dan observasi. Teknik tes digunakan untuk mengukur pencapaian
kemampuan siswa dalam membuat karangan narasi. Sementara teknik observasi
digunakan untuk mengamati dan menilai aktivitas siswa dalam melakukan
tahapan proses menulis karangan narasi. Data yang telah terkumpul dianalisis
dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Data
kualitatif diperoleh dari observasi yang dilakukan selama tindakan pembelajaran
di kelas terhadap aktivitas siswa dan guru. Menurut Pardjono, dkk (2007: 63) hal
yang sangat perlu diperhatikan oleh peneliti adalah pemeriksaan data secara terus
menerus untuk meyakinkan bahwa analisis data ini tetap berdasarkan pada data,
bukan berdasarkan asumsi atau persepsi peneliti.

 

Analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini melalui observasi dan
dianalisis secara naratif deskriptif. yaitu menentukan kriteria aktivitas dengan
memperhatikan pedoman observasi tingkat aktivitas siswa dan aktivitas guru.
Menurut Arikunto dan Jabar (2007: 19), kondisi maksimal yang diharapkan dalam
aktivitas proses pembelajaran adalah 100%. Dalam penelitian ini menentukan atau
menginterpretasikan taraf pelaksanaan aktivitas proses pembelajaran yang
dilakukan oleh siswa dan guru berdasarkan lembar observasi dengan
standar/kriteria penilaian sebagai berikut.

 

Tabel 1. Kriteria penilaian aktivitas pembelajaran

Taraf kemampuan (dalam %) Kualifikasi nilai
81 – 100% Sangat baik
61 – 80% Baik
41 – 60% Cukup
21 – 40% Kurang

 

< 21 Sangat kurang

Data kuantitatif menurut Pardjono, dkk (2007: 54), yaitu informasi yang
muncul di lapangan dan memiliki karakteristik yang dapat ditampilkan dalam
bentuk angka. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan post test diakhir siklus
sebagai data kuantitatif. Hasil post test disetiap akhir siklus memiliki KKM
(kriteria kelulusan minimal) yang harus dicapai oleh setiap siswa. Dalam mata
pelajaran bahasa Indonesia di SD Negeri Jambon 1 menetapkan KKM (kriteria
kelulusan minimal) sebesar 75. Untuk mencari nilai rata-rata siswa dalam satu
kelas dapat menggunakan rumus yang diutarakan oleh Nana Sudjana (2008: 138),
sebagai berikut.

̅= Keterangan :
̅ = rata-rata kelas (mean)
∑ = Jumlah seluruh skor
N = banyaknya siswa

Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila: 1) persentase
aktivitas siswa minimal 70%; 2) nilai tes rata-rata siswa minimal 75; 3) 80%
siswa dari jumlah seluruh siswa mendapat nilai evaluasi di atas KKM (kriteria
ketuntasan minimal) yaitu 75.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Siklus I
Dari hasil pretes pada kegiatan pratindakan menunjukkan bahwa nilai ratarata siswa sebesar 64,17. Nilai ini masih jauh di bawah indikator keberhasilan yang ditetapkan yakni 75. Persentase ketuntasan belajar siswa hanya 33,33% (2 siswa) sedangkan yang lain masih di bawah KKM. Berdasarkan hasil pretes siswa, maka diperlukan adanya upaya perbaikan untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi. Melalui tindakan perbaikan tersebut siswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menulis karangan narasi sehingga berdampak pada tercapainya nilai KKM yang telah ditentukan.
Pada siklus I pembelajaran menulis karangan narasi menggunakan
pembelajaran inkuiri berbantuan media gambar belum berjalan dengan optimal.
Dalam penelitian ini selain peneliti dibantu oleh teman sejawat sebagai observer.
Peneliti juga bertindak sebgai observer sehingga selain mengajar sebagai guru, peneliti juga melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama
pembelajaran berlangsung. Sebelumnya siswa mengalami kesulitan dalam
membuat kerangka karangan. Setelah menggunakan pertanyaan pancingan untuk
membuat kerangka karangan, siswa menjadi lebih mudah untuk mengeluarkan
idenya dalam membuat kerangka karangan. Penggunaan media gambar ternyata
dapat menarik perhatian siswa dalam belajar. Ada beberapa siswa yang masih
sulit dalam mengembangkan kerangka karangan menjadi paragraf.
Pada akhir siklus I, siswa diberi evaluasi menulis karangan narasi sesuai
dengan pengalamannya masing-masing. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui
peningkatan keterampilan menulis karangan narasi dibandingkan dengan
pratindakan. Berdasarkan hasil observasi selama melakukan tindakan siklus I
terhadap proses kerja siswa dalam membuat karangan narasai dapat disajikan
dalam tabel berikut.

 

Tabel 2. Aktivitas Siswa Dalam Proses Mengarang Pada Siklus I

No. Kode Siswa Pertemuan Skor Total  
1 2  
1. AW 11 11 22
2. NFS 10 11 21
3. MALP 15 16 31
4. YA 15 16 31
5. FO 12 12 25
6. ANA 16 17 33
Jumlah Skor 79 83 162
Persentasi Aktivitas Siswa 67,50%

Keterangan:
– Setiap pertemuan terdiri dari 5 aspek aktivitas siswa yang diamati.
– Skor maksimum tiap aspek 4, dengan makna 4 = sangat baik, 3 = baik,
2 = cukup baik, 1 = kurang baik.
– Jumlah skor maksimum aktivitas siswa tiap siklus = (jumlah aspek x skor
maksimal x jumlah pertemuan x jumlah siswa). Jadi, skor maksimum aktivitas
siswa tiap siklus = (5 x 4 x 2 x 6) = 240.
– Persentase skor aktivitas siswa tiap siklus yaitu:

 

Pada pembelajaran siklus I ini hasil karangan beberapa siswa masih
terdapat banyak kekurangan. Sebagian besar isi gagasan yang dikemukakan oleh
siswa sudah logis dan kronologis namun masih ada karangan beberapa siswa yang
agak sulit dimengerti karena menggunakan kalimat yang sama dan diulang-ulang,
misalnya kalimat saya bertemu dan saya dan teman saya. Kedua kalimat tersebut
beberapa kali diulang-ulang pada satu paragraf oleh siswa. Rata-rata skor siswa
dari aspek isi gagasan adalah 26,17 dari skor maksimal 35,00.
Organisasi isi pada karangan narasi siswa masih banyak yang belum
berimbang antara pendahuluan cerita, isi cerita, dan akhir cerita. Beberapa
karangan narasi siswa berakhir dengan cerita yang belum tuntas. Banyak siswa
yang masih kurang tepat dalam menuliskan pendahuluan cerita sehingga awal
cerita seperti bagian isi. Hal ini bagi sebagian pembaca dapat memberikan
pengaruh tidak dapat terbawa ke dalam isi cerita karena pikiran pembaca belum
siap untuk memasuki inti cerita tanpa melalui pendahuluan. Skor rata-rata siswa
pada aspek organisasi isi adalah 18,83 dari skor maksimal 25,00.
Dalam menulis karangan, tata bahasa merupakan alat yang dapat
digunakan untuk menarik hati pembaca. Dari hasil penilaian karangan narasi
siswa dari aspek tata bahasa, siswa masih ada kekeliruan pada penulisan kata
depan dan kata berimbuhan, misal menulis kedua ditulis ke dua. Siswa juga masih
ada yang belum menggunakan kata secara efektif, misal menulis pemuda-pemudi
ditulis para pemuda-pemudi. Skor rata-rata siswa pada aspek tata bahasa adalah
14,00 dari skor maksimal 20,00.

 

Dalam karangan narasi siswa masih terdapat kekeliruan dalam
menentukan pilihan struktur dan kosa kata, misalnya kata atau ditulis atau pun,
kata disana ditulis disana pun. Skor rata-rata siswa dari aspek pilihan struktur dan
kosa kata adalah 9,33 dari skor maksimal 15,00.

 

Penulisan ejaan merupakan salah satu kecakapan dalam berbahasa tulis. Dari penilaian karangan narasi siswa masih banyak terdapat kekeliruan-kekeliruan
seperti penggunaan huruf kapital, misal: pecah balon ditulis pecah Balon, babak
kedua ditulis Babak kedua, kekurangan huruf dalam menulis kata, misalnya:
minuman ditulis minuma, temanku ditulis temaku, lagi ditulis lag, kesalahan
dalam menggunakan tanda baca, misal Yudha, Akmal, dan Bintang ditulis Yudha Akmal dan Bintang. Skor rata-rata siswa dari aspek ejaan adalah 3,50 dari skor
maksimal 5,00.

 

Selain kelima aspek penilain tersebut siswa juga masih ada kekeliruan
bentuk karangan, seperti kalimat pada awal paragraf tidak menjorok ke kanan.
Siswa juga ada yang menulis setiap pergantian paragraf diselang satu baris
padahal setiap pergantian paragraf tidak perlu diselang satu baris. Dari penilaian
komulatif kelima aspek menulis karangan narasi pada siklus I rata-rata nilai siswa
adalah 71,83. Berdasarkan hasil tes dan permasalahan yang ditemukan pada
tindakan siklus I, maka disusunlah rencana perbaikan yang akan dilaksanakan
pada siklus II. Adapun perbaikan yang akan diterapkan pada siklus II adalah
sebagai berikut: 1) menjelaskan kembali penggunaan EYD dalam mengarang
kepada siswa dengan intonasi yang jelas dan tidak tergesa-gesa; 2) menggunakan
media gambar dengan kertas A3 dan bewarna sehingga lebih jelas dan menarik
bagi siswa; 3) menentukan tema yang kontekstual dengan pengalaman siswa
sehingga siswa lebih mudah dalam menuliskan pengalamannya.

 

Hasil Penelitian Siklus II Siswa sudah dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Ketika mendapat LKS siswa sudah tahu apa yang harus dilakukan. siswa langsung menjawab
pertanyaan-pertanyaan pancingan yang terdapat dalam LKS. Siswa semangat
mengerjakan tugas sehingga tidak ada waktu yang terbuang sis-sia. Pada akhir
siklus II, siswa diberi evaluasi menulis karangan narasi sesuai dengan
pengalamannya masing-masing. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui
peningkatan keterampilan menulis karangan narasi dibandingkan pada siklus I.

 

Berdasarkan hasil observasi selama melakukan tindakan siklus II terhadap
proses kerja siswa dalam membuat karangan narasi dapat disajikan dalam tabel
berikut.
Tabel 3. Aktivitas Siswa Dalam Proses Mengarang Pada Siklus II

No. Kode Siswa Pertemuan Skor Total  
1 2  
1. AW 11 13 24
2. NFS 10 11 21

 

3. MALP 17 18 35
4. YA 17 17 34
5. FO 13 15 28
6. ANA 18 17 35
Jumlah Skor 86 91 177
Persentasi Aktivitas Siswa 73,75%

Keterangan:
– Setiap pertemuan terdiri dari 5 aspek aktivitas siswa yang diamati.
– Skor maksimum tiap aspek 4, dengan makna 4 = sangat baik, 3 = baik,
2 = cukup baik, 1 = kurang baik.
– Jumlah skor maksimum aktivitas siswa tiap siklus = (jumlah aspek x skor
maksimal x jumlah pertemuan x jumlah siswa). Jadi, skor maksimum aktivitas
siswa tiap siklus = (5 x 4 x 2 x 6) = 240.
– Persentase skor aktivitas siswa tiap siklus yaitu:
Dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa selama proses menulis
karangan narasi terjadi peningkatan. Berikut grafik hasil aktivitas proses
mengarang siswa selama penelitian siklus I dan siklus II.

Gambar 1. Grafik Aktivitas Proses Mengarang Siswa
Setelah melalui pembelajaran pada siklus II, kemampuan mengarang siswa
mengalami peningkatan. Organisasi isi dan gagasan karangan semakin bagus,
bahasa yang digunakan juga juga baik, pemilihan kata semakin beragam dan tepat.

Siswa juga mulai terampil membuat dan mengembangkan kerangka karangan.
Namun masih terdapat kekurangan dan kekeliruan.
Isi gagasan yang dikemukakan oleh siswa sebagian besar sudah logis,
kronologis dan jelas dengan skor rata-rata 28,00 dari skor maksimal 35,00.
Organisasi isi karangan narasi siswa sebagian besar sudah menunjukkan
komposisi yang seimbang antara bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian
akhir. Skor rata-rata siswa aspek organisasi isi adalah 20,33 dari skor maksimal
25,00. Dari aspek tata bahasa, siswa banyak menggunakan kata hubung yang
berulang-ulang, seperti penggunakan kata setelah dan sesudah itu serta banyak
siswa yang mengulang-ulang kata saya diawal kalimat. Skor rata-rata siswa aspek
tata bahasa adalah 10,33 dari skor maksimal 20,00.

Kekeliruan dalam ejaan juga masih terdapat seperti pada siklus I.
Kesalahan dalam penempatan huruf kapital untuk tempat dan hari, misal: Depok
ditulis depok, Minggu ditulis minggu, kekurangan huruf dalam menulis kata,
misalnya: tetangga ditulis tetaga, kekeliruan menulis kata depan dan kata
berimbuhan, misal menulis diajak ditulis di ajak, kekeliruan dalam menuliskan
ejaan yang benar, misal: hp ditulis hape, kuwaru ditulis kuaru. Skor rata-rata siswa
aspek ejaan adalah 3,50 dari skor maksimal 5,00 Dari penilaian komulatif kelima
aspek menulis karangan narasi pada siklus II rata-rata nilai siswa adalah 75,83.

Hasil penelitian pada siklus II dapat meningkatkan keterampilan menulis
siswa sebesar 11,66 (kondisi awal 64,17 meningkat menjadi 75,83). Terdapat 5
siswa (83,33%) yang mendapat nilai di atas KKM. Rata-rata keterampilan menulis
siswa selama mengikuti pembelajaran pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada
grafik berikut.
Gambar 2. Grafik Nilai Rata-rata Nilai Siswa
Dari penelitian pada siklus I dan siklus II ketuntasan belajar siswa juga
mengalami peningkatan. Berikut adalah grafik ketuntasan belajar siswa.

Gambar 3. Grafik Ketuntasan Belajar Siswa

Secara keseluruhan dengan melihat hasil siklus II relatif baik, dengan
pertimbangan rata-rata nilai evaluasi ≥75, tingkat ketuntasan siswa diatas KKM
≥80%, dan rata-rata aktivitas pembelajaran pada siswa ≥70 maka penelitian ini
dikatakan berhasil dan dapat dihentikan.

Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil tes pratindakan, keterampilan siswa dalam menulis
karangan narasi masih rendah. Nilai rata-rata yang didapat siswa sebesar 64,17
dan siswa yang telah mencapai KKM hanya 33,33%. Dari hasil kerja siswa, masih
ditemukan banyak kesalahan yaitu pada isi, tata bahasa, pemilihan kata, dan ejaan.
Siswa masih bingung dalam membuat kerangka karangan. Siswa juga masih
belum dapat mengembangkan kerangka karangan dengan tepat.

Dalam pembelajaran siklus I, peneliti menerapkan pembelajaran inkuiri
terbimbing dengan bantuan media gambar. Peneliti memberikan pertanyaan
pancingan dalam membuat kerangka karangan dengan tujuan dapat membantu
siswa. Media gambar digunakan agar siswa lebih mudah mengingat kejadian demi
kejadian yang pernah dialami siswa untuk dituliskan kembali dalam karangan
narasi. Hasil dari penelitian pada siklus I terjadi peningkatan dari pratindakan
64,17 menjadi 71,83. Peningkatan yang terjadi pada siklus I terhadap pratindakan
sebesar 7,66. Nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 71,83 merupakan nilai
komulatif dari rata-rata lima aspek menulis karangan narasi. Rincian kelima aspek
menulis karangan narasi tersebut adalah rata-rata skor isi gagasan siswa 26,17.

Rata-rata skor organisasi isi dalam cerita karangan yang dibuat oleh siswa adalah
18,83. Sementara itu rata-rata skor tata bahasa siswa yaitu 14,00. Skor dari aspek
pemilihan struktur dan kosa kata adalah 9,33. Skor ejaan dalam menulis karangan
narasi siswa adalah 3,50. Sementara itu ketuntasan belajar siswa meningkat pada
siklus I sebesar 16,67% dari 33,33% pada pratindakan menjadi 50,00%.

Peningkatan keterampilan menulis narasi pada siswa dikarenakan dalam
membuat kerangka karangan siswa dibantu oleh pertanyaan pancingan. Media
gambar yang digunakan juga dapat membantu siswa dalam mengingat
pengalaman siswa yang akan dituangkan dalam bentuk karangan narasi. Meskipun
terjadi peningkatan keterampilan menulis dan peningkatan jumlah siswa yang
telah memenuhi KKM namun belum memenuhi indikator keberhasilan karangan.

Berdasarkan hasil observasi dan refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan rekan
sejawat sebagai observer, maka diadakanlah penelitian siklus II.
Hasil dari pembelajaran siklus II didapat terjadi peningkatan keterampilan
menulis siswa sebesar 11,66 dari 64,17 menjadi 75,83. Jika dianalisis dari masingmasing aspek menulis karangan narasi antara siklus I dan siklus II maka didapat data perbandingan skor masing-masing aspek. Pada siklus II terjadi peningkatan
skor rata-rata aspek isi gagasan siswa sebesar 1,83 dari 26,17 menjadi 28,00. Skor
rata-rata aspek organisasi isi karangan narasi siswa naik sebesar 1,50 dari 18,83
menjadi 20,33. Skor rata-rata aspek tata bahasa yang digunakan siswa pada
karangan narasi turun sebesar 0,33 dari 14,00 menjadi 13,67. Skor rata-rata aspek
pemilihan struktur dan penggunaan kosa kata tata bahasa naik sebesar 1,00 dari
9,33 menjadi 10,33. Skor rata-rata dari aspek ejaan yang digunakan siswa dalam
menulis karangan narasi antara siklus I dan siklus II tidak terjadi perubahan yaitu
sebesar 3,50.

Hasil karangan siswa sudah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan
antara siklus I dan siklus II. Persentase siswa yang sudah mencapai KKM juga
meningkat 33,33% dari 50%menjadi 83,33%. Jika dibandingkan dengan siklus I
aktivitas proses mengarang siswa pada siklus II juga mengalami peningkatan yaitu
sebesar 6,25% dari 67,50% menjadi 73,75%.

Dalam pembelajaran pada siklus II, media gambar yang digunakan adalah
kertas ukuran A3 dan gambarnya bewarna sehingga siswa lebih tertarik dan
antusias dalam menulis karangan. Selain itu guru juga memberikan penjelasan
tentang EYD dengan lebih jelas dan tidak tergesa-gesa. Berdasarkan hasil
observasi dan refleksi antara guru dan rekan sejawat, maka pembelajaran menulis
karangan narasi dapat dihentikan karena dirasa cukup. Hal ini dikarenakan dalam
siklus II semua indikator keberhasilan penelitian telah tercapai.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri
terbimbing berbantuan media gambar (BELIMBING MEGA) pada siswa kelas V
di SD Negeri Jambon 1 dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan
narasi siswa. Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi siswa pada siklus
I sebesar 7,66 dari kondisi awal 64,17 menjadi 71,83. Persentase ketuntasan
belajar siswa pada siklus I meningkat sebesar 16,67% dari kondisi awal 33,33%
menjadi 50,00%. Peningkatan keterampilan menulis karangan narasi siswa pada
siklus II sebesar 11,66 dari kondisi awal 64,17 menjadi 75,83. Persentase
ketuntasan belajar siswa pada siklus II meningkat sebesar 50,00% dari kondisi
awal 33,33% menjadi 83,33%. Aktivitas proses penyusunan karangan narasi juga
meningkat 6,25% dari 67,50% pada siklus I menjadi 73,75 pada siklus II.

DAFTAR PUSTAKA

Anam, Khoirul.2015. Pembelajaran Berebasis Inkuiri: Metode dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi dan Cepi Sefuddin Abdul Jubar. (2007). Evaluasi
ProgramPendidikan, Pedoman Teoritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.

Arsyad, Azhar. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pardjono, dkk. 2007. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Lembaga
Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta.

Rahadi, Kunjana. 2009. Penyuntingan Bahasa Indonesia Untuk KarangMengarang. Jakarta: Erlangga.

Sadhono, Kundharu dan St. Y. Slamet. 2014. Pembelajaran Berahasa Indonesia:
Teori dan Aplikasi edisi 2. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sudjana, Nana. 2008. Tuntunan Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.

Susanto, Ahmad. 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.
Jakarta:

Prenada Media Group. Sutama, I Made.2016.Pembelajaran Menulis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Wiyanto, Asul. 2006. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.
Zaenuddin, Teguh. 2015. Pembelajaran Mengarang Deskripsi di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Zainurrahman. 2011. Dari Teori Hingga Praktik (Penawar Racun Plagiarisme).
Bandung: Alfa Beta.

Zulela. 2013. Pembelajaran Bahasa Indonesia: Aplikasi Sastra di Sekolah Dasar.
Bandung: Remaja Rosdakarya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s