Belajar E-learning di Seamolec

pelatihan seamolec.jpg

Sudah hampir 2 minggu ini saya mengikuti Pelatihan dari www.Seamolec.org senang berkumpul dengan teman-teman lain se indonesia via dunia maya dan via wa. Ada yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera bahkan ada juga peserta yang berasal dari Papua. Begitu antusiasnya teman-teman mengikuti pelatihan. Ada rasa salut dan bangga khususnya rekan-rekan guru yang berasal dari daerah yang boleh dikatakan untuk sinya pun mereka “takut-takut”. Bagiamana tidak untuk mendapatkan sinyal yang kuat mereka harus menunggu hujan reda atau pun mencari sinyak kuat di daerah yang tinggi.

Mengenati Pelatihan di www.Seamolec.org ada berbagai macam pelatihan yang sering diadakan oleh seamolec, saya sendiri daftar dikarenakan ada desakan untuk mengembangkan diri saya dan juga desakan agar mengumpulkan berbagai macam pelatihan yang intinya untuk kenaikan golongan saya. Daftar juga berawal dari Teman yang berasal dari daerah Jawa-timur, itu pun saya bertanya mengenai susahnya guru DKI untuk mendapatkan pelatihan, apalagi bila keluar dari sekolah yang mengakibatkan terpotongnya tunjangan dan ribetnya demokrasi yang harus dilalui. Selidik punya selidik sempat bertanya dengan teman “mengapa tidak belajar dari seamolec” ujarnya.  Baca lebih lanjut

Iklan

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI MENGGUNAKAN BELIMBING MEGA SISWA KELAS V SDN JAMBON 1

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI
MENGGUNAKAN BELIMBING MEGA
SISWA KELAS V SDN JAMBON 1
Nurrohim

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi
dengan menggunakan belimbing mega Jambon 1. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan, kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V SD Negeri
Jambon 1 masih rendah. Upaya mengatasi masalah tersebut peneliti
menggunakan belimbing mega. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
yang dilakukan sebanyak dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan: (1) aktivitas
siswa 67,50% pada siklus I meningkat menjadi 73,75% pada siklus II, (2) nilai
rata- rata siswa 71,83 pada siklus I meningkat menjadi 75,83 pada siklus II, 3)
ketuntasan belajar siswa 50% pada siklus I meningkat menjadi 83,33% pada
siklus II. Dalam pembelajaran pada siklus II, media gambar yang digunakan
adalah kertas ukuran A3 dan gambarnya bewarna sehingga siswa lebih tertarik
dan antusias dalam menulis karangan. Guru memberikan penjelasan tentang
Ejaan Yang Disempurnakan secara bertahap dan jelas. Kesimpulan bahwa
belimbing mega dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan menulis karangan
narasi siswa.

Kata kunci: menulis karangan narasi, media belimbing mega.

 PENDAHULUAN
Latar Belakang Baca lebih lanjut

DILEMA GURU BERPENDIDIKAN S1 YANG TIDAK MEMILIKI SURAT IZIN BELAJAR

DILEMA GURU BERPENDIDIKAN S1

YANG TIDAK MEMILIKI SURAT IZIN BELAJAR
Haryadi Rusnawan

ABSTRAK
Penulisan karya tulis ini bertujuan mengangkat sebuah permasalahan yang
masih dialami oleh sebagian kecil guru, yaitu guru yang sudah berpendidikan S1
namun tidak memiliki Surat Izin Belajar. Sebelum adanya program sertifikasi
guru, pada umumnya guru Sekolah Dasar masih berpendidikan D2. Setelah
program sertifikasi guru digulirkan, para guru berbondong-bondong menempuh
pendidikan S1. Program tersebut yang mewajibkan guru berpendidikan S1
membuat para guru berusia lanjut memaksakan diri untuk kembali memasuki
bangku kuliah. Ketika banyak guru yang terpaksa kuliah S1 demi mendapatkan
gelar sarjana, ternyata ada sebagian kecil guru yang sudah berpendidikan S1
namun ijazahnya tidak diakui. Mereka adalah para guru PNS/CPNS yang
berpendidikan D2 yang melanjutkan kuliah kemudian memperoleh gelar sarjana
tanpa tahu menahu tentang aturan ijin belajar. Bisa juga karena Surat Ijin Belajar
belum turun hingga kuliah selesai. Resiko yang dialami oleh guru tersebut, ijazah
S1 yang mereka raih dengan susah payah tidak bisa diakui pada kenaikan tingkat
berikutnya.
Kata Kunci: dilema guru, ijin belajar, wajib S1

PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, harus diawali
dengan meningkatkan kualitas pendidiknya. Seorang guru harus lulusan dari
sekolah yang memang dipersiapkan untuk menjadi pendidik yaitu SPG untuk guru
kelas, SGO untuk guru olahraga dan PGA untuk guru agama. Sama halnya dengan
dunia industri yang lebih mengutamakan karyawan dari lulusan SMK.
Seiring berjalannya waktu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka
kualitas guru juga harus lebih ditingkatkan lagi. Dalam rangka pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM), guru sekolah dasar sebagai mana tertuang dalam
SK Mendikbud Nomor 0854/U/1989, tertanggal 30-12-1989 dan SK Dirjen Dikti
No. 178-Dikti/kep/1990 tertanggal 16-04-1990 tentang kualifikasi formal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar harus ditingkatkan dari sederajat SLTA menjadi
Diploma (D-II) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun daerah-daerah
tertentu yang masih kekurangan guru, atau di daerah terpencil masih bisa
menerima guru lulusan sekolah pendidikan guru (SPG) dan sekolah guru olahraga
(SGO).
Baca lebih lanjut

MODEL– MODEL PEMBELAJARAN

Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang lebih bersifat student centered. Artinya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Pembelajaran inovatif mendasarkan diri pada paradigma konstruktivistik.

Pembelajaran inovatif biasanya berlandaskan paradigma konstruktivistik membantu siswa untuk menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru.

Transformasi terjadi melalui kreasi pemahaman baru (Gardner, 1991) yang merupakan hasil dari munculnya struktur kognitif baru. Pemahaman yang mendalam terjadi ketika hadirnya informasi baru yang mendorong munculnya atau menaikkan struktur kognitif yang memungkinkan para siswa memikirkan kembali ide-ide mereka sebelumnya. Dalam seting kelas konstruktivistik, para siswa bertanggung jawab terhadap belajarannya, menjadi pemikir yang otonom, mengembangkan konsep terintegrasi, mengembangkan pertanyaan yang menantang, dan menemukan jawabannya secara mandiri (Brook & Brook, 1993; Duit, 1996; Savery & Duffy, 1996). Tujuh nilai utama konstruktivisme, yaitu: kolaborasi, otonomi individu, generativitas, reflektivitas, keaktifan, relevansi diri, dan pluralisme. Nilai-nilai tersebut menyediakan peluang kepada siswa dalam pencapaian pemahaman secara mendalam.

Setting pengajaran konstruktivistik yang mendorong konstruksi pengetahuan secara aktif memiliki beberapa ciri:

  1. menyediakan peluang kepada siswa belajar dari tujuan yang ditetapkan dan mengembangkan ide-ide secara lebih luas.
  2. mendukung kemandirian siswa belajar dan berdiskusi, membuat hubungan, merumuskan kembali ide-ide, dan menarik kesimpulan sendiri.
  3. sharing dengan siswa mengenai pentingnya pesan bahwa dunia adalah tempat yang kompleks di mana terdapat pandangan yang multi dan kebenaran sering merupakan hasil interpretasi.
  4. menempatkan pembelajaran berpusat pada siswa dan penilaian yang mampu mencerminkan berpikir divergen siswa.

Baca lebih lanjut