MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI MENGGUNAKAN BELIMBING MEGA SISWA KELAS V SDN JAMBON 1

MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI
MENGGUNAKAN BELIMBING MEGA
SISWA KELAS V SDN JAMBON 1
Nurrohim

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi
dengan menggunakan belimbing mega Jambon 1. Berdasarkan hasil studi
pendahuluan, kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V SD Negeri
Jambon 1 masih rendah. Upaya mengatasi masalah tersebut peneliti
menggunakan belimbing mega. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
yang dilakukan sebanyak dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan: (1) aktivitas
siswa 67,50% pada siklus I meningkat menjadi 73,75% pada siklus II, (2) nilai
rata- rata siswa 71,83 pada siklus I meningkat menjadi 75,83 pada siklus II, 3)
ketuntasan belajar siswa 50% pada siklus I meningkat menjadi 83,33% pada
siklus II. Dalam pembelajaran pada siklus II, media gambar yang digunakan
adalah kertas ukuran A3 dan gambarnya bewarna sehingga siswa lebih tertarik
dan antusias dalam menulis karangan. Guru memberikan penjelasan tentang
Ejaan Yang Disempurnakan secara bertahap dan jelas. Kesimpulan bahwa
belimbing mega dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan menulis karangan
narasi siswa.

Kata kunci: menulis karangan narasi, media belimbing mega.

 PENDAHULUAN
Latar Belakang Baca lebih lanjut

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS KONTEKSTUAL DI KELAS V SEKOLAH DASAR

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS
KONTEKSTUAL DI KELAS V SEKOLAH DASAR
Yuda Martin Anggriana, M.Pd.

ABSTRAK
Kurikulum 2013 menuntut guru untuk dapat mengembangkan bahan ajar dalam
setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini berarti pembelajar perlu berinteraksi dengan
sumber-sumber belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan penelitian
dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar matematika berbasis
kontekstual yang valid, efektif, dan praktis untuk siswa kelas V Sekolah Dasar
dengan menggunakan four D model (4-D) yang dimodifikasi menjadi three D
model (3- D). Penelitian ini menggunakan rancangan analisis deskriptif , yang
terdiri dari data deskriptif kualitatif dan data dekriptif kuantitatif. Data yang
didapatkan dikonversikan berdasarkan kriteria kevalidan, kepraktisan, dan
keefektifan pada bahan ajar yang dikembangkan. Hasil penelitian menunjukan
bahan ajar matematika berbasis kontekstual valid, praktis dan efektif. Bahan ajar
yang dikembangkan memiliki kelebihan sehingga dapat dikatakan praktis dan
efektif. Bahan ajar yang dikembangkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada pembelajaran matematika materi jarak, waktu, dan kecepatan yang
didasarkan pada keefektifan bahan ajar.
Kata kunci: pengembangan, bahan ajar matematika, kontekstual

 

PENDAHULUAN

 

Mengingat pentingnya proses pembelajaran matematika, seyogianya
pembelajaran matematika di sekolah dasar diajarkan sesuai dengan kurikulum
yang berlaku. Perubahan dilakukan karena dianggap belum sesuainya kurikulum
yang berlaku dengan tujuan yang diharapkan. Permadi (2012) mengemukakan
Baca lebih lanjut

MODEL PELATIHAN BERBASIS ANDRAGOGI BERBANTUAN CMS MOODLE UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU SD

MODEL PELATIHAN BERBASIS ANDRAGOGI
BERBANTUAN CMS MOODLE UNTUK MENINGKATKAN
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU SD
Sri Giarti

ABSTRAK
Permasalahan dalam penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan model pelatihan
mandiri yang dapat meningkatkan kompetensi pedagogik guru SD dalam menulis
PTK. Pelatihan selama ini belum dilakukan secara efektif, guru masih
mengandalkan pelatih tatap, guru masih tergantung dari pelatih belum belajar
mandiri, metode pelatihan yang ada belum dilakukan secara berkesinambungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pelatihan penulisan karya
tulis ilmiah berbasis andragogi berbantuan CMS Moodle. Penelitian ini dilakukan
dengan R & D mencakup dua tahapan. Pada tahap studi pendahuluan, dilakukan
kajian pustaka serta survei lapangan tentang model pelatihan yang digunakan
selama ini. Pada tahap pengembangan, dilakukan penyusunan draf model, validasi
ahli dan uji lapangan terbatas. Teknik analisis data menggunakan teknik uji beda
Mann-Whitney U test. Hasil R & D menunjukkan temuan: 1) model pelatihan
dilakukan melalui analisis, perencanaan, pengembangan, implementasi, dan
evaluasi; 2) tingkat validitas model berada pada kategori baik; dan 3) kompetensi
guru lebih tinggi dari sebelum menggunakan model.

Kata kunci: CSM Moodle; andragogi; kompetensi pedagogik.

Baca lebih lanjut

PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI LITERASI PRODUKTIF BERBASIS INFORMASI DAN TEKNOLOGI PADA GURU SMP NEGERI

PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI
LITERASI PRODUKTIF BERBASIS INFORMASI DAN TEKNOLOGI
PADA GURU SMP NEGERI
Mohammad Hairul

ABSTRAK
Seiring peralihan budaya literasi dari cetak ke digital, from print to screen, dunia
pendidikan melalui proses pembelajaran di sekolah seharusnya mengarah pada
pembelajaran abad ke-21. Suatu proses yang mengakrabkan pembelajar dengan
teknologi. Literasi produktif berbasis IT dibutuhkan guru untuk pengembangan
kompetensi pedagogik. Perpaduan keterampilan literasi dan penggunaan IT akan
membantu guru menghasilkan inovasi pembelajaran berupa aplikasi
pembelajaran. Makalah ini mendeskripsikan apa, mengapa, dan bagaimana literasi
produktif berbasis IT. Literasi produktif dimaknai sebagai aktivitas memproduksi
huruf melalui aktivitas menulis untuk memberikan keterpahaman. Hal itu
dimaksudkan untuk merevolusi mental guru dari penerima pengetahuan menjadi
pemproduksi pengetahuan di era digital. Wujud pelatihan untuk menggiatkan
literasi produktif berbasis IT bagi guru antara lain, Sagusatab (satu guru satu
tablet), Sagusamik (satu guru satu komik), Sagusablog (satu guru satu blog),
Sagusanov (satu guru satu inovasi), Sagusaku (satu guru satu buku), dan
Sagusakti (satu guru satu KTI).

Kata Kunci: Kompetensi Guru, Literasi Produktif, Berbasis IT.
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Guru Indonesia kini notabene adalah sarjana. Kualifikasi tersebut
merupakan kualifikasi minimal seorang guru di jenjang sekolah dasar sekalipun. Baca lebih lanjut

DILEMA GURU BERPENDIDIKAN S1 YANG TIDAK MEMILIKI SURAT IZIN BELAJAR

DILEMA GURU BERPENDIDIKAN S1

YANG TIDAK MEMILIKI SURAT IZIN BELAJAR
Haryadi Rusnawan

ABSTRAK
Penulisan karya tulis ini bertujuan mengangkat sebuah permasalahan yang
masih dialami oleh sebagian kecil guru, yaitu guru yang sudah berpendidikan S1
namun tidak memiliki Surat Izin Belajar. Sebelum adanya program sertifikasi
guru, pada umumnya guru Sekolah Dasar masih berpendidikan D2. Setelah
program sertifikasi guru digulirkan, para guru berbondong-bondong menempuh
pendidikan S1. Program tersebut yang mewajibkan guru berpendidikan S1
membuat para guru berusia lanjut memaksakan diri untuk kembali memasuki
bangku kuliah. Ketika banyak guru yang terpaksa kuliah S1 demi mendapatkan
gelar sarjana, ternyata ada sebagian kecil guru yang sudah berpendidikan S1
namun ijazahnya tidak diakui. Mereka adalah para guru PNS/CPNS yang
berpendidikan D2 yang melanjutkan kuliah kemudian memperoleh gelar sarjana
tanpa tahu menahu tentang aturan ijin belajar. Bisa juga karena Surat Ijin Belajar
belum turun hingga kuliah selesai. Resiko yang dialami oleh guru tersebut, ijazah
S1 yang mereka raih dengan susah payah tidak bisa diakui pada kenaikan tingkat
berikutnya.
Kata Kunci: dilema guru, ijin belajar, wajib S1

PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, harus diawali
dengan meningkatkan kualitas pendidiknya. Seorang guru harus lulusan dari
sekolah yang memang dipersiapkan untuk menjadi pendidik yaitu SPG untuk guru
kelas, SGO untuk guru olahraga dan PGA untuk guru agama. Sama halnya dengan
dunia industri yang lebih mengutamakan karyawan dari lulusan SMK.
Seiring berjalannya waktu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka
kualitas guru juga harus lebih ditingkatkan lagi. Dalam rangka pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM), guru sekolah dasar sebagai mana tertuang dalam
SK Mendikbud Nomor 0854/U/1989, tertanggal 30-12-1989 dan SK Dirjen Dikti
No. 178-Dikti/kep/1990 tertanggal 16-04-1990 tentang kualifikasi formal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar harus ditingkatkan dari sederajat SLTA menjadi
Diploma (D-II) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun daerah-daerah
tertentu yang masih kekurangan guru, atau di daerah terpencil masih bisa
menerima guru lulusan sekolah pendidikan guru (SPG) dan sekolah guru olahraga
(SGO).
Baca lebih lanjut

Prosiding Seminar Nasional Tahun 2017

Berikut ini adalah beberapa Prosiding yang pernah di tampilkan dalam Seminar Nasional Tahun 2017 yang bertempat di Swiss Bel Hotel jakarta.

Prosiding berikut sengaja saya sebarkan, untuk bahan bacaan atau bahan rujukan. dan perlu anda ingat tulisan prosiding berikut sudah ber ISBN. jadi bila anda mencopy atau menduplikasi tulisan berikut dan di ikut sertakan dalam barbagai macam seminar maka anda tidak adan lulus Plagiasi.

terimkasih semoga berguna.